"Kemarin hari terakhir usia belasanku, Bunda...."
Genap 20 kini. Entah kenapa, aku rasa ini bukan lagi usia muda. Habis sudah masa untuk bermain-main rasanya (walaupun aku yakin sendiri aku akan tetap jadi sama ke depannya). Berumur dua-an itu agak berat ya......katanya.
Banyak ucapan dan doa yang mereka berikan. Ada juga yang datang membawa kue dan sekotak kado. Tapi, tahukahtelinga dan rasaku begitu ingin mendengar selantun doa dari sebuah bibir mulia.
Aku ingin doa dari Bunda. Dari sejak aku buka mata hari ini, aku menanti ucapan itu. Sengaja tak kukatakan hari ini adalah 12 Februari padanya. Aku juga tak tahu apakah ia ingat atau tidak. Sampai siang tadi semua berjalan biasa saja di rumah. Ada canda, itu hal biasa. Tawa juga sama. Karena itulah 'perabot rumah' yang kami punya.
Aku ingin ucapan dan doa dari Bundaku. Tidak mau kado apa-apa. Aku cuma mau bilang padanya, pada wanita surga itu:
"Terima kasih telah mempertaruhkan hidupmu 20 tahun lalu. Terima kasih telah bersedia bangun di tengah malam hanya untuk mendengar tangisanku. Terima kasih telah mengasuh, merawat, mendidik, dan memberiku makan selama 20 tahun ini. Bahkan lebih, sejak aku meringkuk manja di rahimmu. Terima kasih untuk tiap penjagaanmu di tiap sakitku selama 20 tahun ini, seperti sakitku selama seminggu tadi. Terima kasih untuk tiap perhatian itu. Terima kasih untuk tiap gelas teh hangat yang sering kau sajikan. Terima kasih untuk tiap pangkuan dan sandaran yang selalu kau berikan. Terima kasih kau selalu sediakan telinga untuk tiap ceritaku, untuk tiap keluhku.
Kau bidadari surga dari-Nya, Bun... Maaf untuk semua kata dan sikap yg menyakitimu selama 20 tahun ini, bahkan mungkin bertahun-tahun lagi yg akan datang. Tapi kau tetaplah mukjizat itu. Aku mencintaimu, Bun..."
Aku tidak tahu, apakah Bunda ingat tentang hari ini sebelum teman-temanku datang, atau setelahnya. Yang jelas, suapan kue darinya itu begitu nikmat... :)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact