Dua hari.
Aku bertemu banyak hal. Juga banyak orang.
Yg memang pernah kukenal, dan yg sama sekali asing di pandangan.
Aku berkunjung pada beberapa tempat.
Yg akrab kudatangi, dan yg sama sekali belum pernah kukunjungi.
Kemarin, aku sedang mempersiapkan diri menerima kabar gembira. Sudah membayangkan dikirimi foto seorang bayi mungil yg baru lahir beberapa jam sebelumnya. Menebak-nebak siapa nama yg akan diberikan oleh si orang tua.
Maka aku sejak pagi bertemu dgn 14 anakku dgn wajah lebih sumringah.
Baru beberapa jam saja. Sebelum ponsel berbunyi. Panggilan dari nomor yg belum kusimpan.
Kabar yg kutunggu ternyata didahului oleh kabar lain.
Cuma beberapa kata: "yuk, nyai meninggal. Izin dulu, langsung ke lemabang."
Lalu telpon dimatikan. Aku terpaku, masih mengeja "innalillah".
Ada sergapan perasaan dari dalam. Berkumpul di pelupuk mata. Aku mengadahkan wajah ke langit-langit kelas, menjaga agar tak ada setetespun yg luruh.
No. Tekadku sudah jelas. Tidak ada lagi tangis utk sebuah kehilangan. Apapun itu. Siapapun itu.
Bukankah apa yg kulafazkan tadi adalah sebuah pengakuan bahwa aku memang tak punya apa-apa? Lalu yg kutangisi kehilangan apa?
Ah, manusia. Siapa yg bisa berlagak kuat melepas apa yg biasa darinya, apalagi utk yg bernyawa. Selamanya.
Tanpa air mata? Hah!
Tapi setidaknya tidak di depan mereka, 14 wajah yg tiba-tiba memandang bundanya dengan tanya "kenapa?"
Melangkah keluar. Kuhabiskan seluruh rasa tadi di hadapan sebuah bak besar. Sebentar saja. Kubendung lagi semuanya setelah mencuci muka.
Tidak kembali ke kelas. Aku melangkah ke kelas sebelah. Minta pendapat, sekaligus minta tolong titip anak-anak.
Dengan menahan semua sisa air mata, akhirnya aku pamit pada kepala sekolah.
Perjalanan.
Tangis itu masih. Terakhir kali aku menangis di angkot begini ya beberapa waktu lalu. Saat aku melihat apa yg benar2 tak mau kulihat. Perjalanan yg menyakitkan.
Kakiku melangkah di depan rumahnya. Sudah ada tenda. Ada bapak.
Kulihat wajah itu. Menyimak wajah seorang anak lelaki yg baru saja kehilangan ibunya di saat usianya jg mulai baya.
Bapak dan aku sama. Selalu menahan air mata.
Aku memperhatikan dan mengikuti beberapa proses pengurusan jenazahnya. Begitu jg abang dan adik-adikku. Mengambil peran bahwa kami cucu dari anak laki-laki wanita berusia 84 yg jasadnya sudah jadi dingin itu.
Mamak pun sama. Baktinya tak ubah pada orang tuanya sendiri. Saat jasad itu dipangku untuk dimandikan, Mamak yg berulang kali mengingatkan utk berlemah lembut ketika membersihkan. Tak ada risih ketika Mamak membersihkan jari-jari kaki Nyai utk terakhir kali.
"Mertua itu sama saja orang tua sendiri. Jika anaknya saja wajib dipatuhi, orangtuanya pun harus dihormati."
Pesan yg selalu Mamak dengungkan.
Siapa yg tau tentang lahir dan mati?
Di hari yg sama.
Ini perjalanan. Yg kita butuhkan hanya persiapan. Semoga apa yg disiapkan berupa kecukupan, semoga yg diinginkan sesuai dengan yg telah Dia catatkan.
Tak ada yg melihatnya ketika sakratul maut. Jasadnya sudah jd dingin ketika pagi hari cucunya hendak pamit berangkat kerja. Hanya berdua dalam rumah.
"Aku hidup ndak lama lagi. Aku minta utk ditanam di tanah lahirku, di samping liang bapakku. Ndak perlu khawatir, aku punya tabungan dan beberapa suku emas. Insya Allah cukup utk biaya mengurus jenazahku. Aku cuma minta tolong diantarkan ke sana, karena aku sudah ndak bisa pergi sendiri."
Dia berwasiat, sebelum idul adha kemarin. Saat dia memanggil seluruh anaknya utk berkumpul.
Seharusnya tak heran lagi kenapa ada benda berbungkus kain putih di dalam lemari pakaiannya. Lengkap. Uang dan surat berharga miliknya. Yg dipersiapkannya, karena ndak mau merepotkan orang lain. Bahkan anak-anaknya.
Hanya minta tolong diantarkan, karena dia tidak bisa lagi berjalan sendiri.
Allahummaghfirlaha, warhamha, wa'afiha, wafu'anha...
--------
Di hari yg sama, siang itu. Seorang wanita muda duduk di hadapanku. Lalu menunjukkan bagian jilbabnya yg berdarah. Tepat di bagian kepala.
Tanpa diminta dia bercerita.
Tentang tubuhnya yg perlahan habis.
"Disantet..." katanya pelan.
Aku diam. Aku lebih menghargai hasil periksa medis dibanding cerita begini. Sikap begini yg sering dikomentari Mamak; "Nda tuh ndak jauh dari sifat Ugok." (Ugok = Kakek, -baturaja)
Perempuan muda itu melanjutkan ceritanya. Meneruskan kisah hidupnya setahun terakhir. Tentang kepalanya yg penuh luka dan kadang berdarah.
"Alhamdulillah sudah mendingan, dulu kepalaku serasa terbakar. Pedih minta ampun."
Dia membuka jilbabnya, menunjukkan kepala yg penuh luka seperti koreng. Beberapa bagian sudah berdarah.
"Nafasku sering sesak. Badanku jg penuh luka seperti terbakar. Kemarin sempat lumpuh."
Kuperhatikan pergelangan tangannya yg mungkin hanya selingkaran telunjuk-jempol. Benar-benar kurus. Untung tertutupi dengan gamis dan jilbab lebarnya.
Tiba-tiba ia menyingkap gamis. Menunjukkan satu bekas luka di belakang lututnya. Legam. Melepuh.
"Ini. Badanku penuh seperti ini. Sudah periksa ke labor, hasilnya bagus. Ndak ada masalah. Suami bawa aku ke 'orang pintar'. Katanya aku disantet."
Aku diam. Mengingat-ingat beliau siapa. Keluarga? Mungkinlah.
Iba melihatnya.
Dia terus bercerita. Suaminya orang yg rajin, tp sedang stop usaha karena kemarin sempat pailit.
Wanita inilah yg jadi tulang punggung keluarga. Iya, bahkan dengan kondisinya yg menderita seperti ini.
Dia masih menguatkan diri utk keliling dgn motornya, menagih kreditan barang rumah tangga.
"Sakit memang. Bahkan kadang aku berniat bunuh diri. Tapi kulawan sendiri. Aku sudah susah di sini, jangan sampai jg susah di sana." Ia masih bertutur. Rembesan darah di jilbabnya mulai jd coklat. Kering.
"Kamu tau siapa yg nyantet?" Mamak angkat suara.
Wanita itu menggeleng, "lebih baik ndak tau. Aku takut hidup menyimpan benci. Aku ndak mau mati sambil bawa rasa benci ke orang."
"Aku bersyukur punya suami yg rajin mengingatkan, yg sayang dgn ku. Aku punya anak2 yg juga sayang denganku. Pernah kusuruh suamiku menikah lagi. Aku sadar diri. Kondisiku sekarang sudah ndak bisa lagi mengurusnya. Malah dia yg jadi mengurusiku, membersihkan badanku, menyuapiku makan, menenangkanku kalau aku kesakitan."
Aku menunggu lanjutan ceritanya. Menarik.
"Tapi dia langsung memeluk dan menciumku waktu itu. Katanya dia sayang aku bukan ketika keadaanku masih bagus saja, tapi bagaimanapun keadaanku.."
Ada genangan tertahan di matanya.
"Yang buat aku selalu bertahan adalah anak-anak. Kalau bukan karena mereka, aku ndak akan kuat."
Dia mengakhiri ceritanya.
Dia mengajarkanku banyak hal.
Menggerutui hidup tidak akan menyelesaikan apapun.
Tidak ada yg menjanjikan hidup tanpa ujian berat. Pilihannya tetap dua: menyerah lalu jadi pecundang, atau bertahan dan melawan sebagai pejuang.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact