Selasa, 01 September 2015 0 comments

Tepi Musi, di senja pembuka September.

Hai Musi. Akhirnya kita bertemu. Dalam senja bersama asap.
Aku mau menggenapi senja dan menjemput malam bersamamu lagi, sejak entah kapan terakhir kali.
Aku mau bercerita, melarung semua dengan riakmu.

Hari-hariku tidak seharusnya melulu tentang anak-anak, Musi. Tadi aku menoleh ke samping, aku punya adik-adik. Agak terabai.
Kupikir mereka baik2 saja. Kukira semua telah jauh melangkah, dan aku yg tertinggal.
Kami telah punya semua, kecuali "nyawa".

Kami bisa ini-itu, tapi tidak dengan mewariskan nyawa, seperti kami wariskan segalanya pada mereka.

Tempat itu terus memanggil2 lagi, Musi. Seperti kau yang memanggil2 utk datang kembali. Memaksa bercerita utk dilarung bersama riakmu. Menenggelamkan segala suara dalam deburmu.

Lingkaran itu, tempat cinta tersemai, kembali mendung seperti kotaku. Entah karena kabut musiman, atau ia berjalan menjauh dari posisi yg dulu.

 
;