Senin, 24 Agustus 2015 0 comments

Ada wajah-wajah baru yg kuhadirkan dalam doa-doa pengikat jiwa. Mereka. Yang berempat belas.
Ya, aku jatuh cinta. Pada hati-hati suci yg menemani hari-hariku kini.

Seperti tadi, saat dhuha. Seketika ada haru saat menatap mereka.
Pun kala zuhur tiba. Entah berapa kali aku menyeka air mata.
Aku jatuh cinta. Pada mereka.
Lama kutatap satu persatu wajah itu, yg masih menatap sajadah seraya menggumam alfatihah.

Mereka adalah cinta yg diamanahkan.

Masih ingat betul ketika aku bercerita, menjelaskan tentang Dia Yang Maha Pencipta. Jumat siang menjelang pulang. Mereka mendengarkan, sambil sesekali berbagi tanya.
Sekedar kata "terima kasih Bunda, besok ajarin lagi ya". Tapi itulah penghilang lelah dan dahaga.

Jumat, 21 Agustus 2015 0 comments

..nyambung

Theeeen... inget pas festival muharrom? Pertama kalinya sepanjang jaman, pas di masa kita, namanya berubah jd "Festival Seni Islam".
Hayooo siapa ketupelnyaa? Siapa bendaharanyaaa? Siapa pj acaranyaaa?
Itu pak ketupel nyambi ngisi nasyid. Nuansa. Lupa judulnya.

Giiirrlls.. inget obrolan kita di tangga musholah? Tebak2an siapa yg bakal duluan nikah. Hihi
paling kenceng yg pasang target 21, rata2 23.
Hayyyaaaa. Telnyata dunia tak segampang yg kita olang kila haaa...

Ada yg suka pedes, ada yg noleh ke cabe aje ogah. Ada yg seneng ungu, ada yg pink, ada jg biru. Hitam-putih jg adaa.

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta :)

Kamis, 20 Agustus 2015 0 comments

Pos dulu, nanti nyambungnya

Kangen kalian. Dua hingga empat kali seminggu ke tempat itu, bayangan kalian masih saja berkelebat di mata.
Mana ketua rohis yg jarang bicara tapi suka kasih teladan dgn tindakannya.
Korwat yg selalu ceria, suka tertawa, dan tetep bijaksana, sekarang di mana?
Mana ketum nasyid yg cueknya ampyuuun, mana jg ketum da'i yg (terlalu) ramah senyum?
Mana pj keputrian pecicilan dan pinter bingit ngolah duit?
Mana pj ngaji-irama yg jago kaligrafi, yg tiap laporan pasti ngadu soal ekonomi?
Mana korput da'i yg selalu diminta sekolah utk ngisi ngaji?
Mana bendahara pendiam nan anggun, tapi catatan keuangannya selalu teratur?
Mana para bapak2 personil tim vokal nasyid yg beragam karakter? Yg cuek, yg jutek, yg geje, yg ngegantengin diri, yg ramah, yg suka ngobrol, dan juga yg kalem.

Kangen kalian. Kangen kita balik sekolah kumpul di musholah, menggerutui pr fisika atau kimia. Yg ips mengeluh ttg guru matematika yg kalo kasih tugas tak kenal kira.
Trus kita lipat mukenah2. Cek perpus, buku apa yg belum dibaca. Liat jadwal agenda keput, tho'am mau apa.

Sesekali piket akbar.
Sikat WC?
Hajar!

Kangen kita tanya ke seberang: "ikhwan berapa orang yg belum pulang? Sudah makan belum?"
Lalu menyeberanglah pula senampan nasi dgn lauknya, atau rujak lengkap dgn kuah. Melewati kain biru tebal yg tinggi lebih dari kepala.

Kangen teguran dari teman2 sebelah: "akhwat, suara... dibatasi tolong." Itu karena kita ngobrol atau bablas tertawa. Mereka mengingatkan sebagai sesama saudara.

Ingat momen pesantren romadhon? Waktu kita yg jd panitia. Capeknya luar biazzzaaa. Begadang, ndak tidur semaleman. Jaga mereka yg akan muhasabah.
Trus paginya, kita terkapar tak berdaya di pinggir2 musholah, setelah bersih2 tempat wudhu' ba'da subuh.


Selasa, 18 Agustus 2015 0 comments

Senja ini. Seperti senja empat tahun lalu.

Menapaki ulang masa empat tahun lalu. Saat senja adalah cerita tentang ransel, sepelukan makalah, dan jejalanan aspal kampus-rumah.
Aku rindu masa itu. Saat senja dan gersang jadi bingkisan sepulang kuliah.
Kutapaki lagi jalan itu. Menyusuri jalan di samping gedung baru, lalu jalanan yg tanpa liku.

Memang belum sempat bertemu musi. Tp senja ini telah mengobati sebagian rindu.

Kamis, 13 Agustus 2015 0 comments

Kamis, 13 Agustus 2015

"Kembalilah, Ru..."
Itu kata yg buat aku selalu jd bisu. Entah berapa kali sudah. Dan jawaban bodoh akhirnya kukatakan tadi: "sudah kok, aku sudah kembali".

"Bukan cuma selasa-kamis, tapi lebih."
"Ndak. Aku ke sini tiga kali seminggu."
Ia seperti tak mendengar. Aku menanti tanggapannya.
"Mereka butuh, sama seperti dulu kamu butuh."
Iya, aku tau. Tapi sepertinya keadaan mereka lebih baik dibanding aku dulu. Atau aku yg melihatnya terlalu dari jauh?

"Kembalilah, ya..." dia mengulangi. Matanya masih lekat, tak lepas dari menatapku. Seperti meminta "iya" yang pasti.

Aku menarik nafas. Berat.
"Aku sudah berjalan kembali, hanya mungkin belum sedekat dulu. Aku masih memikirkan apa yg harus kulakukan saat aku telah tiba."
Akhirnya kujawab juga.

Dia tersenyum, "apa yg kulakukan dulu terhadapmu? Kau yg sering bilang: 'kata kenapa dan bagaimana, lalu mendengarkan cerita, kadang lebih berarti dari segalanya'. Lakukan itu. Cukup."

Aku baru ingin bertanya 'kemudian?', namun dia lebih dulu beranjak dari duduknya, menarik tanganku untuk bersalaman, mengucap salam, dan berlalu.

Aku masih terdiam. Gadis berjilbab merah di sampingku membereskan ranselnya, mencari2 kunci motor yg entah di mana.
Pukul 16.30. Kami tinggal berdua di ruang besar itu. Di depan pintu ada sosok tinggi yg berdiri. Pasti sudah waktunya mengunci.

Tak ada alasan terlalu sore untuk berada di tempat ini. Tempat pertama aku merasakan indahnya sujud di waktu dhuha. Tempat aku merasakan sejuknya pagi yg dilalui bersama tilawah.

Kurasa jg tak ada alasan terlalu jauh utk meneruskan langkah kembali. Ke tempat itu. Tempat aku jatuh cinta.

0 comments

Mentari Merah

Baru sempat kutuliskan, tentang mentari merah yg kini kutemui tiap pagi.
Indahnya jangan kau tanya. Jarakku dan dia hanya dibatasi selapis kaca. Dia ada dan terkadang menghilang ke balik pepohonan atau bangunan2 tua.
Seperti bersembunyi untuk lalu mencumbui. Seperti sedang berkejaran lalu mengajak tertawa.

Mentari merahku. Pagi.

Aku telah kehilangan banyak kata.
Mungkin terselip di antara origami warna warni.
Atau ikut terhapus dari papan putih yg berhias tinta gelap.

Tapi mentari merah kembali mengajariku. Bahwa kata adalah teman yg tak mungkin kulupa.
Yg seringkali hanya bisa kutemui saat memejamkan mata.

Mentari merah mengajariku untuk kembali. Pada tinta2 yg secarik kertas tanpa berwarna.

 
;