Kamis, 13 Agustus 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

"Kembalilah, Ru..."
Itu kata yg buat aku selalu jd bisu. Entah berapa kali sudah. Dan jawaban bodoh akhirnya kukatakan tadi: "sudah kok, aku sudah kembali".

"Bukan cuma selasa-kamis, tapi lebih."
"Ndak. Aku ke sini tiga kali seminggu."
Ia seperti tak mendengar. Aku menanti tanggapannya.
"Mereka butuh, sama seperti dulu kamu butuh."
Iya, aku tau. Tapi sepertinya keadaan mereka lebih baik dibanding aku dulu. Atau aku yg melihatnya terlalu dari jauh?

"Kembalilah, ya..." dia mengulangi. Matanya masih lekat, tak lepas dari menatapku. Seperti meminta "iya" yang pasti.

Aku menarik nafas. Berat.
"Aku sudah berjalan kembali, hanya mungkin belum sedekat dulu. Aku masih memikirkan apa yg harus kulakukan saat aku telah tiba."
Akhirnya kujawab juga.

Dia tersenyum, "apa yg kulakukan dulu terhadapmu? Kau yg sering bilang: 'kata kenapa dan bagaimana, lalu mendengarkan cerita, kadang lebih berarti dari segalanya'. Lakukan itu. Cukup."

Aku baru ingin bertanya 'kemudian?', namun dia lebih dulu beranjak dari duduknya, menarik tanganku untuk bersalaman, mengucap salam, dan berlalu.

Aku masih terdiam. Gadis berjilbab merah di sampingku membereskan ranselnya, mencari2 kunci motor yg entah di mana.
Pukul 16.30. Kami tinggal berdua di ruang besar itu. Di depan pintu ada sosok tinggi yg berdiri. Pasti sudah waktunya mengunci.

Tak ada alasan terlalu sore untuk berada di tempat ini. Tempat pertama aku merasakan indahnya sujud di waktu dhuha. Tempat aku merasakan sejuknya pagi yg dilalui bersama tilawah.

Kurasa jg tak ada alasan terlalu jauh utk meneruskan langkah kembali. Ke tempat itu. Tempat aku jatuh cinta.

0 comments:

Posting Komentar

 
;