Kangen kalian. Dua hingga empat kali seminggu ke tempat itu, bayangan kalian masih saja berkelebat di mata.
Mana ketua rohis yg jarang bicara tapi suka kasih teladan dgn tindakannya.
Korwat yg selalu ceria, suka tertawa, dan tetep bijaksana, sekarang di mana?
Mana ketum nasyid yg cueknya ampyuuun, mana jg ketum da'i yg (terlalu) ramah senyum?
Mana pj keputrian pecicilan dan pinter bingit ngolah duit?
Mana pj ngaji-irama yg jago kaligrafi, yg tiap laporan pasti ngadu soal ekonomi?
Mana korput da'i yg selalu diminta sekolah utk ngisi ngaji?
Mana bendahara pendiam nan anggun, tapi catatan keuangannya selalu teratur?
Mana para bapak2 personil tim vokal nasyid yg beragam karakter? Yg cuek, yg jutek, yg geje, yg ngegantengin diri, yg ramah, yg suka ngobrol, dan juga yg kalem.
Kangen kalian. Kangen kita balik sekolah kumpul di musholah, menggerutui pr fisika atau kimia. Yg ips mengeluh ttg guru matematika yg kalo kasih tugas tak kenal kira.
Trus kita lipat mukenah2. Cek perpus, buku apa yg belum dibaca. Liat jadwal agenda keput, tho'am mau apa.
Sesekali piket akbar.
Sikat WC?
Hajar!
Kangen kita tanya ke seberang: "ikhwan berapa orang yg belum pulang? Sudah makan belum?"
Lalu menyeberanglah pula senampan nasi dgn lauknya, atau rujak lengkap dgn kuah. Melewati kain biru tebal yg tinggi lebih dari kepala.
Kangen teguran dari teman2 sebelah: "akhwat, suara... dibatasi tolong." Itu karena kita ngobrol atau bablas tertawa. Mereka mengingatkan sebagai sesama saudara.
Ingat momen pesantren romadhon? Waktu kita yg jd panitia. Capeknya luar biazzzaaa. Begadang, ndak tidur semaleman. Jaga mereka yg akan muhasabah.
Trus paginya, kita terkapar tak berdaya di pinggir2 musholah, setelah bersih2 tempat wudhu' ba'da subuh.


0 comments:
Posting Komentar