Rabu, 11 November 2015 0 comments

10 November 2015

Dua hari.
Aku bertemu banyak hal. Juga banyak orang.
Yg memang pernah kukenal, dan yg sama sekali asing di pandangan.

Aku berkunjung pada beberapa tempat.
Yg akrab kudatangi, dan yg sama sekali belum pernah kukunjungi.

Kemarin, aku sedang mempersiapkan diri menerima kabar gembira. Sudah membayangkan dikirimi foto seorang bayi mungil yg baru lahir beberapa jam sebelumnya. Menebak-nebak siapa nama yg akan diberikan oleh si orang tua.
Maka aku sejak pagi bertemu dgn 14 anakku dgn wajah lebih sumringah.

Baru beberapa jam saja. Sebelum ponsel berbunyi. Panggilan dari nomor yg belum kusimpan.
Kabar yg kutunggu ternyata didahului oleh kabar lain.
Cuma beberapa kata: "yuk, nyai meninggal. Izin dulu, langsung ke lemabang."
Lalu telpon dimatikan. Aku terpaku, masih mengeja "innalillah".

Ada sergapan perasaan dari dalam. Berkumpul di pelupuk mata. Aku mengadahkan wajah ke langit-langit kelas, menjaga agar tak ada setetespun yg luruh.
No. Tekadku sudah jelas. Tidak ada lagi tangis utk sebuah kehilangan. Apapun itu. Siapapun itu.
Bukankah apa yg kulafazkan tadi adalah sebuah pengakuan bahwa aku memang tak punya apa-apa? Lalu yg kutangisi kehilangan apa?

Ah, manusia. Siapa yg bisa berlagak kuat melepas apa yg biasa darinya, apalagi utk yg bernyawa. Selamanya.
Tanpa air mata? Hah!

Tapi setidaknya tidak di depan mereka, 14 wajah yg tiba-tiba memandang bundanya dengan tanya "kenapa?"

Melangkah keluar. Kuhabiskan seluruh rasa tadi di hadapan sebuah bak besar. Sebentar saja. Kubendung lagi semuanya setelah mencuci muka.
Tidak kembali ke kelas. Aku melangkah ke kelas sebelah. Minta pendapat, sekaligus minta tolong titip anak-anak.
Dengan menahan semua sisa air mata, akhirnya aku pamit pada kepala sekolah.

Perjalanan.
Tangis itu masih. Terakhir kali aku menangis di angkot begini ya beberapa waktu lalu. Saat aku melihat apa yg benar2 tak mau kulihat. Perjalanan yg menyakitkan.

Kakiku melangkah di depan rumahnya. Sudah ada tenda. Ada bapak.
Kulihat wajah itu. Menyimak wajah seorang anak lelaki yg baru saja kehilangan ibunya di saat usianya jg mulai baya.
Bapak dan aku sama. Selalu menahan air mata.

Aku memperhatikan dan mengikuti beberapa proses pengurusan jenazahnya. Begitu jg abang dan adik-adikku. Mengambil peran bahwa kami cucu dari anak laki-laki wanita berusia 84 yg jasadnya sudah jadi dingin itu.

Mamak pun sama. Baktinya tak ubah pada orang tuanya sendiri. Saat jasad itu dipangku untuk dimandikan, Mamak yg berulang kali mengingatkan utk berlemah lembut ketika membersihkan. Tak ada risih ketika Mamak membersihkan jari-jari kaki Nyai utk terakhir kali.

"Mertua itu sama saja orang tua sendiri. Jika anaknya saja wajib dipatuhi, orangtuanya pun harus dihormati."
Pesan yg selalu Mamak dengungkan.

Siapa yg tau tentang lahir dan mati?
Di hari yg sama.
Ini perjalanan. Yg kita butuhkan hanya persiapan. Semoga apa yg disiapkan berupa kecukupan, semoga yg diinginkan sesuai dengan yg telah Dia catatkan.

Tak ada yg melihatnya ketika sakratul maut. Jasadnya sudah jd dingin ketika pagi hari cucunya hendak pamit berangkat kerja. Hanya berdua dalam rumah.

"Aku hidup ndak lama lagi. Aku minta utk ditanam di tanah lahirku, di samping liang bapakku. Ndak perlu khawatir, aku punya tabungan dan beberapa suku emas. Insya Allah cukup utk biaya mengurus jenazahku. Aku cuma minta tolong diantarkan ke sana, karena aku sudah ndak bisa pergi sendiri."
Dia berwasiat, sebelum idul adha kemarin. Saat dia memanggil seluruh anaknya utk berkumpul.

Seharusnya tak heran lagi kenapa ada benda berbungkus kain putih di dalam lemari pakaiannya. Lengkap. Uang dan surat berharga miliknya. Yg dipersiapkannya, karena ndak mau merepotkan orang lain. Bahkan anak-anaknya.

Hanya minta tolong diantarkan, karena dia tidak bisa lagi berjalan sendiri.
Allahummaghfirlaha, warhamha, wa'afiha, wafu'anha...

--------

Di hari yg sama, siang itu. Seorang wanita muda duduk di hadapanku. Lalu menunjukkan bagian jilbabnya yg berdarah. Tepat di bagian kepala.
Tanpa diminta dia bercerita.
Tentang tubuhnya yg perlahan habis.
"Disantet..." katanya pelan.
Aku diam. Aku lebih menghargai hasil periksa medis dibanding cerita begini. Sikap begini yg sering dikomentari Mamak; "Nda tuh ndak jauh dari sifat Ugok." (Ugok = Kakek, -baturaja)

Perempuan muda itu melanjutkan ceritanya. Meneruskan kisah hidupnya setahun terakhir. Tentang kepalanya yg penuh luka dan kadang berdarah.
"Alhamdulillah sudah mendingan, dulu kepalaku serasa terbakar. Pedih minta ampun."
Dia membuka jilbabnya, menunjukkan kepala yg penuh luka seperti koreng. Beberapa bagian sudah berdarah.

"Nafasku sering sesak. Badanku jg penuh luka seperti terbakar. Kemarin sempat lumpuh."

Kuperhatikan pergelangan tangannya yg mungkin hanya selingkaran telunjuk-jempol. Benar-benar kurus. Untung tertutupi dengan gamis dan jilbab lebarnya.
Tiba-tiba ia menyingkap gamis. Menunjukkan satu bekas luka di belakang lututnya. Legam. Melepuh.

"Ini. Badanku penuh seperti ini. Sudah periksa ke labor, hasilnya bagus. Ndak ada masalah. Suami bawa aku ke 'orang pintar'. Katanya aku disantet."

Aku diam. Mengingat-ingat beliau siapa. Keluarga? Mungkinlah.
Iba melihatnya.
Dia terus bercerita. Suaminya orang yg rajin, tp sedang stop usaha karena kemarin sempat pailit.
Wanita inilah yg jadi tulang punggung keluarga. Iya, bahkan dengan kondisinya yg menderita seperti ini.
Dia masih menguatkan diri utk keliling dgn motornya, menagih kreditan barang rumah tangga.

"Sakit memang. Bahkan kadang aku berniat bunuh diri. Tapi kulawan sendiri. Aku sudah susah di sini, jangan sampai jg susah di sana." Ia masih bertutur. Rembesan darah di jilbabnya mulai jd coklat. Kering.

"Kamu tau siapa yg nyantet?" Mamak angkat suara.

Wanita itu menggeleng, "lebih baik ndak tau. Aku takut hidup menyimpan benci. Aku ndak mau mati sambil bawa rasa benci ke orang."

"Aku bersyukur punya suami yg rajin mengingatkan, yg sayang dgn ku. Aku punya anak2 yg juga sayang denganku. Pernah kusuruh suamiku menikah lagi. Aku sadar diri. Kondisiku sekarang sudah ndak bisa lagi mengurusnya. Malah dia yg jadi mengurusiku, membersihkan badanku, menyuapiku makan, menenangkanku kalau aku kesakitan."

Aku menunggu lanjutan ceritanya. Menarik.

"Tapi dia langsung memeluk dan menciumku waktu itu. Katanya dia sayang aku bukan ketika keadaanku masih bagus saja, tapi bagaimanapun keadaanku.."

Ada genangan tertahan di matanya.
"Yang buat aku selalu bertahan adalah anak-anak. Kalau bukan karena mereka, aku ndak akan kuat."

Dia mengakhiri ceritanya.


Dia mengajarkanku banyak hal.
Menggerutui hidup tidak akan menyelesaikan apapun.
Tidak ada yg menjanjikan hidup tanpa ujian berat. Pilihannya tetap dua: menyerah lalu jadi pecundang, atau bertahan dan melawan sebagai pejuang.

Selasa, 01 September 2015 0 comments

Tepi Musi, di senja pembuka September.

Hai Musi. Akhirnya kita bertemu. Dalam senja bersama asap.
Aku mau menggenapi senja dan menjemput malam bersamamu lagi, sejak entah kapan terakhir kali.
Aku mau bercerita, melarung semua dengan riakmu.

Hari-hariku tidak seharusnya melulu tentang anak-anak, Musi. Tadi aku menoleh ke samping, aku punya adik-adik. Agak terabai.
Kupikir mereka baik2 saja. Kukira semua telah jauh melangkah, dan aku yg tertinggal.
Kami telah punya semua, kecuali "nyawa".

Kami bisa ini-itu, tapi tidak dengan mewariskan nyawa, seperti kami wariskan segalanya pada mereka.

Tempat itu terus memanggil2 lagi, Musi. Seperti kau yang memanggil2 utk datang kembali. Memaksa bercerita utk dilarung bersama riakmu. Menenggelamkan segala suara dalam deburmu.

Lingkaran itu, tempat cinta tersemai, kembali mendung seperti kotaku. Entah karena kabut musiman, atau ia berjalan menjauh dari posisi yg dulu.

Senin, 24 Agustus 2015 0 comments

Ada wajah-wajah baru yg kuhadirkan dalam doa-doa pengikat jiwa. Mereka. Yang berempat belas.
Ya, aku jatuh cinta. Pada hati-hati suci yg menemani hari-hariku kini.

Seperti tadi, saat dhuha. Seketika ada haru saat menatap mereka.
Pun kala zuhur tiba. Entah berapa kali aku menyeka air mata.
Aku jatuh cinta. Pada mereka.
Lama kutatap satu persatu wajah itu, yg masih menatap sajadah seraya menggumam alfatihah.

Mereka adalah cinta yg diamanahkan.

Masih ingat betul ketika aku bercerita, menjelaskan tentang Dia Yang Maha Pencipta. Jumat siang menjelang pulang. Mereka mendengarkan, sambil sesekali berbagi tanya.
Sekedar kata "terima kasih Bunda, besok ajarin lagi ya". Tapi itulah penghilang lelah dan dahaga.

Jumat, 21 Agustus 2015 0 comments

..nyambung

Theeeen... inget pas festival muharrom? Pertama kalinya sepanjang jaman, pas di masa kita, namanya berubah jd "Festival Seni Islam".
Hayooo siapa ketupelnyaa? Siapa bendaharanyaaa? Siapa pj acaranyaaa?
Itu pak ketupel nyambi ngisi nasyid. Nuansa. Lupa judulnya.

Giiirrlls.. inget obrolan kita di tangga musholah? Tebak2an siapa yg bakal duluan nikah. Hihi
paling kenceng yg pasang target 21, rata2 23.
Hayyyaaaa. Telnyata dunia tak segampang yg kita olang kila haaa...

Ada yg suka pedes, ada yg noleh ke cabe aje ogah. Ada yg seneng ungu, ada yg pink, ada jg biru. Hitam-putih jg adaa.

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta :)

Kamis, 20 Agustus 2015 0 comments

Pos dulu, nanti nyambungnya

Kangen kalian. Dua hingga empat kali seminggu ke tempat itu, bayangan kalian masih saja berkelebat di mata.
Mana ketua rohis yg jarang bicara tapi suka kasih teladan dgn tindakannya.
Korwat yg selalu ceria, suka tertawa, dan tetep bijaksana, sekarang di mana?
Mana ketum nasyid yg cueknya ampyuuun, mana jg ketum da'i yg (terlalu) ramah senyum?
Mana pj keputrian pecicilan dan pinter bingit ngolah duit?
Mana pj ngaji-irama yg jago kaligrafi, yg tiap laporan pasti ngadu soal ekonomi?
Mana korput da'i yg selalu diminta sekolah utk ngisi ngaji?
Mana bendahara pendiam nan anggun, tapi catatan keuangannya selalu teratur?
Mana para bapak2 personil tim vokal nasyid yg beragam karakter? Yg cuek, yg jutek, yg geje, yg ngegantengin diri, yg ramah, yg suka ngobrol, dan juga yg kalem.

Kangen kalian. Kangen kita balik sekolah kumpul di musholah, menggerutui pr fisika atau kimia. Yg ips mengeluh ttg guru matematika yg kalo kasih tugas tak kenal kira.
Trus kita lipat mukenah2. Cek perpus, buku apa yg belum dibaca. Liat jadwal agenda keput, tho'am mau apa.

Sesekali piket akbar.
Sikat WC?
Hajar!

Kangen kita tanya ke seberang: "ikhwan berapa orang yg belum pulang? Sudah makan belum?"
Lalu menyeberanglah pula senampan nasi dgn lauknya, atau rujak lengkap dgn kuah. Melewati kain biru tebal yg tinggi lebih dari kepala.

Kangen teguran dari teman2 sebelah: "akhwat, suara... dibatasi tolong." Itu karena kita ngobrol atau bablas tertawa. Mereka mengingatkan sebagai sesama saudara.

Ingat momen pesantren romadhon? Waktu kita yg jd panitia. Capeknya luar biazzzaaa. Begadang, ndak tidur semaleman. Jaga mereka yg akan muhasabah.
Trus paginya, kita terkapar tak berdaya di pinggir2 musholah, setelah bersih2 tempat wudhu' ba'da subuh.


Selasa, 18 Agustus 2015 0 comments

Senja ini. Seperti senja empat tahun lalu.

Menapaki ulang masa empat tahun lalu. Saat senja adalah cerita tentang ransel, sepelukan makalah, dan jejalanan aspal kampus-rumah.
Aku rindu masa itu. Saat senja dan gersang jadi bingkisan sepulang kuliah.
Kutapaki lagi jalan itu. Menyusuri jalan di samping gedung baru, lalu jalanan yg tanpa liku.

Memang belum sempat bertemu musi. Tp senja ini telah mengobati sebagian rindu.

Kamis, 13 Agustus 2015 0 comments

Kamis, 13 Agustus 2015

"Kembalilah, Ru..."
Itu kata yg buat aku selalu jd bisu. Entah berapa kali sudah. Dan jawaban bodoh akhirnya kukatakan tadi: "sudah kok, aku sudah kembali".

"Bukan cuma selasa-kamis, tapi lebih."
"Ndak. Aku ke sini tiga kali seminggu."
Ia seperti tak mendengar. Aku menanti tanggapannya.
"Mereka butuh, sama seperti dulu kamu butuh."
Iya, aku tau. Tapi sepertinya keadaan mereka lebih baik dibanding aku dulu. Atau aku yg melihatnya terlalu dari jauh?

"Kembalilah, ya..." dia mengulangi. Matanya masih lekat, tak lepas dari menatapku. Seperti meminta "iya" yang pasti.

Aku menarik nafas. Berat.
"Aku sudah berjalan kembali, hanya mungkin belum sedekat dulu. Aku masih memikirkan apa yg harus kulakukan saat aku telah tiba."
Akhirnya kujawab juga.

Dia tersenyum, "apa yg kulakukan dulu terhadapmu? Kau yg sering bilang: 'kata kenapa dan bagaimana, lalu mendengarkan cerita, kadang lebih berarti dari segalanya'. Lakukan itu. Cukup."

Aku baru ingin bertanya 'kemudian?', namun dia lebih dulu beranjak dari duduknya, menarik tanganku untuk bersalaman, mengucap salam, dan berlalu.

Aku masih terdiam. Gadis berjilbab merah di sampingku membereskan ranselnya, mencari2 kunci motor yg entah di mana.
Pukul 16.30. Kami tinggal berdua di ruang besar itu. Di depan pintu ada sosok tinggi yg berdiri. Pasti sudah waktunya mengunci.

Tak ada alasan terlalu sore untuk berada di tempat ini. Tempat pertama aku merasakan indahnya sujud di waktu dhuha. Tempat aku merasakan sejuknya pagi yg dilalui bersama tilawah.

Kurasa jg tak ada alasan terlalu jauh utk meneruskan langkah kembali. Ke tempat itu. Tempat aku jatuh cinta.

0 comments

Mentari Merah

Baru sempat kutuliskan, tentang mentari merah yg kini kutemui tiap pagi.
Indahnya jangan kau tanya. Jarakku dan dia hanya dibatasi selapis kaca. Dia ada dan terkadang menghilang ke balik pepohonan atau bangunan2 tua.
Seperti bersembunyi untuk lalu mencumbui. Seperti sedang berkejaran lalu mengajak tertawa.

Mentari merahku. Pagi.

Aku telah kehilangan banyak kata.
Mungkin terselip di antara origami warna warni.
Atau ikut terhapus dari papan putih yg berhias tinta gelap.

Tapi mentari merah kembali mengajariku. Bahwa kata adalah teman yg tak mungkin kulupa.
Yg seringkali hanya bisa kutemui saat memejamkan mata.

Mentari merah mengajariku untuk kembali. Pada tinta2 yg secarik kertas tanpa berwarna.

Senin, 27 April 2015 0 comments

Dauroh Kemarin

Assalamu'alaikum blog..
Tambah jarang ngepost ya saya.

Kemarin ikut dauroh munakahat di masjid DPRD (lupa namanya). First time ngikut yg begituan. Itu juga mendadak banget. Acara jam 2, baru dapet kabar jam 1 lewat. Alhasil loncat dari depan laptop, sampe Mamak & Adek bengong. Dipikir saya kesambet apa.

Acaranya dimulai dgn lelang buku "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan". Itu buku yg pengen banget kupunya dari jaman SMA. Tapi sampe sekarang ndak kebeli2. Pernah minjem sama adek tingkat, sampe waktunya dibalikin juga akhirnya ndak sempet kebaca.

Balik lagi ke cerita lelang buku. Itu buku oleh MC dilelang dgn harga Rp 2.575,00,- . MC nya mau uang pas.
Eh tapi ada 2 akhwat yg maju ke depan, rebutan tuh buku. Kupikir keren juga ada yg masih nyimpen duit 25 perak. Eh taunya si mbak tsb ngasih duit 3 ribu, dan bilang "sisanya ambil aja".
Akhirnya buku itu dapet di mbak tsb. Ibrohnya, kata MC, kalau memang kita sudah benar2 menginginkan sesuatu biasanya kita ndak akan banyak mikir, yg pentibg kesampean. Hmm. Gitu.

Lanjut.
Dauroh dimulai. Diisi oleh Ustadz Yuwono. Perintah pertamanya adalah; tuliskan persiapan pernikahan menurut pandangan pribadi kita. Dikasih waktu 2 menit. Aku melongo, belum sadar kalo aku sekarang emang bener2 hadir di dauroh munakahat. However tetep kutulis juga di notesku:
1. Persiapan ilmu
2. Persiapan fisik & mental
3. Persiapan finansial.
Itu doang.

Setelah 2 menit, datanglah perintah kedua. Tulis di kertas yg sama: "Aku akan menikah ....... tahun/bulan lagi."
JLEB!

Target sejelas itu terakhir yg kutulis adalah target tamat kuliah. Besar2 kutulis di kaca kamar, pake spidol permanen: "WISUDA NOVEMBER 2014. CUMLAUDE."

Lah sekarang kalimat serupa itu juga harus kutulis lagi. Bukan soal tamat kuliah, tapi NIKAH.
Celingak celinguk ke barisan depan, ada mbak2 yg angkatannya di atasku. Noleh kanan kiri, ada yg seangkatanku. Liat ke samping, ada adek tingkatku. Sepertinya aku bener2 ndak sadar ini dauroh apa. Rahma yg duduk di sebelahku jg sama bingungnya.
Mulut sih iya sering usil bilang mau segera nikah. Tapi pas ditodong target begini, kok nyengir pun jd berat.
Akhirnya ngitung umur. Baru kemudian bismillah nulis angka di buku. Fyuuuh. Deg2annya ampyuun.

Selesailah dua tugas yg 'cuma' nulis itu. Ustadz kasih tausiyah ttg persiapan pernikahan.

Yg asik itu bahas penyakit2. Ya kan ustadznya profesor di bidang kedokteran. Baru ngeh kalo TBC itu bener2 bahaya. Bahkan calon ibu yg menderita Tbc pun sebaiknya kandungannya digugurkan sebelum usia 10 minggu.
Why? Karena kalau dipertahankan si anak kemungkinan besar akan lahir tidak normal dan atau jd cacat.

Lalu ada yg nanya gimana cara tau perempuan itu subur atau ndak. Kata ustadz, bisa diliat dari jumlah saudara dan keluarganya. Tapi bukan berarti anak tunggal itu ndak subur loh ya.
Hal lain yg bisa jd indikator kesuburan seorang perempuan itu adalah keteraturan masa haidhnya. Kan beragam ya siklus haidh. Ada yg rentang 20 hari, 28-30 hari, dua bulanan, atau seminimalnya 3 bulan. Yg penting teratur. Bagi yg ndak teratur, sebaiknya harus segera periksa ke dokter.

Apa lagi ya...
Ah iya, miopia (rabun jauh) itu berpengaruh ndak saat akan melahirkan?
Kata ustadz juga tergantung minusnya. Angka 1-5 masihlah aman. Kalo 6 ke atas baru sebaiknya dikonsultasikan lebih lanjut.
Aku langsung ngecek kacamata. Masih 5,25. Tergolong aman kan ya?

Banyak jugalah pertanyaan2 yg lain. Banyak banget malah. Soal proposal, ta'aruf, ta'aruf keluarga, khitbah, akad, sampe walimah.

Waktu dauroh yg dijadwal sampe 17.00, akhirnya dgn kesepakatan jd ditambah 30 menit. Luar biasa.

Begitulah kira2 pengalaman pertama ngikut dauroh munakahat. Something.

Wes gitu dulu blog. See ya. :)

Kamis, 12 Februari 2015 0 comments

Alhamdulillah. Dua-dua.

Mungkin hari ini, ada seorang wanita mulia yg sedang terlelap, yg terlupa bahwa ia pernah bertaruh nyawa untuk sebuah kehidupan, dua-puluh-dua tahun lalu...
Kepada wanita itu kuabdikan segala cinta, meski tak akan pernah sebanding dengan kasih sayang dan penjagaannya yg tak hingga....

Dua-puluh-dua tahun lalu, ada seorang laki-laki gagah setia menunggui sang istri bertaruh nyawa. Mengantarkan wanita itu terburu, berusaha tak lupa membawa setumpuk pakaian ganti, namun jemari tetap pada genggaman sang istri. Laki-laki yg kulitnya melegam demi kecukupan penyambutan bayinya yg kedua....

Mamak - Bapak. Dua orang istimewa yg kadang dengan manja kupanggil Bunbun - Papi.
Terima kasih pada kalian, dua orang penggenggam ridho-Nya... Untuk tiap cinta, kasih sayang, pendidikan, penjagaan, dan segala yg terlewat aku mengingatnya. Terima kasih telinga yg selalu ada untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah. Terima kasih untuk bibir yg selalu menggumam doa dan memberi nasehat indah. Terima kasih untuk tangan yg selalu terulur saat ananda tersungkur.
Terima kasih pula, Bun, untuk tiap pangkuan yg selalu kau sediakan, tempatku berbaring manja saat berbagi cerita, bahkan hingga usia yg dua-dua.
Apa yg pantas kupinta selain sebuah surga bagi mereka? Maka berikanlah, Rabb... Berikan... Engkau Yang Memiliki Segala...

Terima kasih duhai Allah... Untuk tiap karunia dan segala nikmat yg tak akan pernah sanggup aku menghitungnya. Sejak rezekiku Kau tuliskan, hingga kini, bahkan hingga waktunya aku kembali.
Terima kasih, duhai Allah... Kata dan goresan pena tak bisa menjelaskan syukur ini. Tak bisa. Semoga Kau mantapkan hatiku dalam keimanan pada-Mu.

Di dua-dua ini, Rabb, Kau lebih tau, apa-apa yg telah kutargetkan. Semoga serupa dengan apa yg Kau catatkan.
Luruskan niatku, mudahkan  segala urusanku, duhai Robbi... Kuatkan langkah-langkahku, berkahi tiap hasil ikhtiarku...

Wahai Maha Pemelihara, pelihara aku bersama orang-orang sholeh, bersama mereka yg khusyu berzikir pada-Mu... Tetap tempatkan aku pada lingkaran-lingkaran cahaya itu... Bersama mereka, yg tak henti memperluas ilmu demi menggapai taqwa pada-Mu...

Patahkan hatiku, Allah, jika tertaut pada sesuatu yg membuat lalai dan tidak bermuara pada Engkau...

Alhamdulillah. Segala puji yg memang hanya milik-Mu.
12 Februari 1993 - 12 Februari 2015.
Dua-dua. ☺

 
;