Banyak aku bercerita tentang orang lain di lembar ini. Orang- orang di sekitarku. Bahkan aku belum sempat bercerita tentang 'dia'. Manusia yang begitu kucinta.
"yang menjaga akan tiba pada yang terjaga"
(Al Humairaa)
Tiba- tiba terlintas kalimat itu. Hasil tadabbur.
Mungkin tau maksudnya. Refleksi dari ayat cinta Tuhan:
Tuhan tak akan salah. Coba buktikan ayat cinta-Nya yang mana yang pernah keliru?
Termasuk masalah pasang- pasangan ini.
Ah, intinya: jagalah hati dan diri untuk Allah, maka Dia akan beri kau seseorang yang hati dan dirinya juga tertaut pada-Nya.
Tak perlu permasalahkan rasa yang tak terungkap. Jangan juga risaukan kasih yang tak sampai. Toh Allah punya cara yang begitu indah untuk mempertemukan dia dan dirimu.
Sudahlah. Tak perlu habiskan waktu sisa ini dalam kegalauan yang tanpa keuntungan. Berhentilah mengharap berlebih kalau hasilnya belum pasti.
Isi saja waktu 'penantian'mu ini dengan hal2 positif dan produktif. Hanya untuk ridho-Nya. Itu jauh lebih mebahagiakan ketimbang kau meringkuk di bawah selimut dan menangis tersedu oleh cinta2 palsu itu. Atau kau 'sekedar' sibuk memikirkan dia yang belum pasti untukmu.
Jodoh itu cerminan kepribadianmu, Kawan. Jadi teruslah berbenah agar pantulan cermin itu juga indah.
Pertama kali denger kalimat motivatif: "Temukan Passion-mu!" , jujur bingung. Maklum, vocab terbatas. Pas googling juga kok rada aneh binti nggak nyambung gitu terjemahnya ke Indonesia. Tapi alhamdulillah setelah berjuang sana kemari nyari arti kata"passion" yang pas dgn kalimat motivasi tadi, sedikit banyak nemu juga.
Di tengah Musi begini, aku jadi ingin mengingatmu
Mengingat senyum- senyummu, juga mengingat tawa- tawamu
Di tengah Musi begini, aku jadi ingin mengingatmu
Tapi hari-hariku sudah terbiasa bersama lupa
Aku ada di sini bersama bangunan merah renta menghadapku, menemuiku
Ah, bukan
Aku yang menghadapnya, menemuinya
karena ia telah ada di sana sebelum aku datang
dan aku juga mau begitu
Aku mau kau juga menghadap padaku, menemuiku
Karena aku masih dan tetap ada di sini, di tempat kita dulu...
Karena aku mau berkata maaf untuk salah- salahku dulu.
*bersama segelas es teh manis di tepi Musi, 10 Oktober 2012
Gambaran
keadaan:
Jurnalistik
2010 di Ruang 09, menunggu dosen Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana, Taufik
Akhyar, M. Si.
Ngobrol-
ngobrol, mencoba saling memahami pengertian :p
C. I. N. T. A.
Asrul : Cinta adalah Pesek
Deka : Cinta adalah Lekakiku
Oka : Cinta adalah t*i kucing
Dhoif: Cinta adalah kelembutan
Yudi: Cinta adalah Kisah tertunda
Rian : Cinta adalah perasaan
Saddam : Cinta adalah milik-Nya
Shindi : Cinta adalah huruf "A"
DRS : Cinta adalah Botak
Ruru : Cinta adalah sastra
bismillah.
kali ini sebenernya "curhat". Tentang satu media manis yg disebut BLOG.
Entah kapan dapet pengetahuan pertama tentang #Blog, yang jelas dulu taunya ini semacem diary online gitulah. Kalo buat puisi bisa diposting di #Blog, buat cerpen gitu juga. Pokoke whatever you wrote, you posting deh. Yah, intinya yang namanya #Blog itu emang tempat untuk ngeshare tulisan. Biarpun nggak jelas share ke siapa, atau makhluk sejenis apa yang baca.
Selamat mengingat hari lahir ya Abangku sayang. Semoga jadi pribadi yang lebih bermakna dari sebelumnya, jadi Abang yang lebih baik buat kami, dan jadi mahasiswa yang lebih rajin belajar :p
Sedikit Kisah Abang......
Dari dulu emang jarang deket dgn Abang, soale pisah asuhan. Dari umur setahun Abang sudah dibawa Makwo ke Lahat (soale anak-cowok Makwo satu2nya meninggal). Ke Palembang cuma kalo libur sekolah atau pas lebaran doang. Jadi kami benar2 jarang interaksi.
Si Abang orangnya cuek, jadi ndak hobi ngasih kabar ke Palembang. Bales sms jg sesingkat2nya. Yah, jadi terbayanglah betapa 'jauh'nya kami.
Abang balik ke Palembang lagi sejak SNMPTN, karena ngambil les intensif di sini. Rencananya sih mau kuliah di Unsri (entah jurusan apa, yg penting Unsri!). Dan kami sekeluarga -termasuk Makwo -ragu kalo Abang bakal lulus. Maka Abang sempet kuliah di LP3i (lulus SMA ajee meragukan Abangku itu). Kuliah di LP3i itu sambil nunggu pengumuman SNMPTN. (Akhirnya Abang ambil pilihan 1 di Adm Negara dan pilihan 2 di Sosiologi).
Dan......amat tak disangka- sangka, beliau lulus di pilihan ke-2 nya. JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK. Weh weh, kebayang kan, betapa gemparnya seisi rumah pas ada nama SYAFRIAN WAHID di halaman pengumuman kelulusan SNMPTN.
Setelah itu Abang memulai hari2nya di Inderalaya tercinta.
Abang ikut kegiatan MASOPALA. Turun- naik gunung, pelatihan navigasi, dsb. Nilai- nilainya cukup berantakan. Sekali dapet nilai A, nilai D sudah bertengger 4. Tapi hal yg cukup membanggakan dari Abang adalah waktu beliau jd salah satu tim kampanye Sea Games jalur laut. Jadi yang dipilih kan cuma 5 orang: 2 dari UI, 2 Unsri, dan 1 dari Trisakti. Nah Abang termasuk salah satu dari 2 orang mahasiswa Unsri yang ditunjuk utk kampanye itu ^^
Yah, kira2 itulah sedikit kisah Abang. Abang yang benar2 jarang pulang -_-
Ramadhan ini, baru sehari dia pulang ke Palembang, itu pun gara2 Bapak terus2an nelpon. Lagi ikut SP katanya.
Hmm... Abang...
Selamat Mengingat Hari Lahir yang ke-21, Abangku sayang...
Like shining oil, this night is dripping down
Stars
are slipping down, glistening
And I'm trying not to think what I'm
leaving now
No deceiving now,
it's time you let me
know.
Let me know
When
the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone,
I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
Climbing through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
This in between us is getting thinner
now into winter now,
bitter sweet across
that horizon this sun is setting down
You're
forgetting now, its time you let me go, let me go
When the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone,
I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
Climbing through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
And tell them I couldn't help myself
And
tell them I was alone
Oh, tell me I am the only one and there's nothing left to stop me.
When the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone,
I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
Climbing
through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
kita sedang jatuh cinta, Sayang...
ku tau itu dalam sendu tatapmu...
mengasa jauh dalam syahdu dan pesona langit biru..
kita sedang jatuh cinta, Sayang..
saat kau lantunkan untukku doa- doa di tiap tahajudmu,
dan gemerisik tasbih rindu mengalun syahdu di malam- malam kita...
membiarkan sunyi jadi saksi deburan- deburan harapan...
kita sedang jatuh cinta, Sayang...
ketika kau kubangunkan di fajar dan kita berlayar di atas ombak ma'rifat-Nya...
kita sedang jatuh cinta, Sayang...
karna jingga- jingga tak selamanya bermakna senja...
dan merah jambu tak melulu mawar- mawar di taman kita...
lalu kita terus jatuh cinta, Sayang...
dalam pendakian mimpi mengantri di jannah-Nya...
maka kupinta kau teruskan tasbih itu bersamaku...
biarkan mereka menyajikan air kautsar untuk kita nanti...
teruskan tasbih itu, Sayang...
dan kita akan terus jatuh cinta....
*untuk kalian, L-Mujahidah Crew
biarkan rabithah mengikat kita dalam dekap cinta-Nya
ku tau itu dalam sendu tatapmu...
mengasa jauh dalam syahdu dan pesona langit biru..
kita sedang jatuh cinta, Sayang..
saat kau lantunkan untukku doa- doa di tiap tahajudmu,
dan gemerisik tasbih rindu mengalun syahdu di malam- malam kita...
membiarkan sunyi jadi saksi deburan- deburan harapan...
kita sedang jatuh cinta, Sayang...
ketika kau kubangunkan di fajar dan kita berlayar di atas ombak ma'rifat-Nya...
kita sedang jatuh cinta, Sayang...
karna jingga- jingga tak selamanya bermakna senja...
dan merah jambu tak melulu mawar- mawar di taman kita...
lalu kita terus jatuh cinta, Sayang...
dalam pendakian mimpi mengantri di jannah-Nya...
maka kupinta kau teruskan tasbih itu bersamaku...
biarkan mereka menyajikan air kautsar untuk kita nanti...
teruskan tasbih itu, Sayang...
dan kita akan terus jatuh cinta....
*untuk kalian, L-Mujahidah Crew
biarkan rabithah mengikat kita dalam dekap cinta-Nya
taukah?
ketika aku lelah,,
aku berkeluh kesah.,,
dan itu sama sekali tak kurangi lelahku.
namun tika aku memandangnya dari sebuah sudut berbeda,
yang dibahasakan orang sebagai indah,
di sanalah ada bahagia.
perjalanan hidup membuat orang terus mengalami proses pembelajaran..
menemui, menghadapi berbagai perbedaan..
menentukan sebuah nilai yang baik dan yang buruk
hingga akhirnya menemukan apa yang dimaksud dengan kebenaran
apa itu arti keindahan
dan bagaimana merasakan kebahagiaan
bagaimana pun hidup mesti tetap dijalani.,
tak ada kata henti kecuali mati.
terus mencari
meyakini doktrin2 yang sebenarnya tak sekedar teori
ada korelasi nyata antara dogma dan fakta
itulah tugas kita
menemukannya!
karena ia memang ada..
jalani.
nikmati.
dan lihat semua dari segala sisi!
jika pun tak mampu,
pandanglah sisi yang mampu mengukir senyummu.
pandanglah suatu tempat yang membuatmu mampu bertahmid pada penguasa jiwamu.....
ketika aku lelah,,
aku berkeluh kesah.,,
dan itu sama sekali tak kurangi lelahku.
namun tika aku memandangnya dari sebuah sudut berbeda,
yang dibahasakan orang sebagai indah,
di sanalah ada bahagia.
perjalanan hidup membuat orang terus mengalami proses pembelajaran..
menemui, menghadapi berbagai perbedaan..
menentukan sebuah nilai yang baik dan yang buruk
hingga akhirnya menemukan apa yang dimaksud dengan kebenaran
apa itu arti keindahan
dan bagaimana merasakan kebahagiaan
bagaimana pun hidup mesti tetap dijalani.,
tak ada kata henti kecuali mati.
terus mencari
meyakini doktrin2 yang sebenarnya tak sekedar teori
ada korelasi nyata antara dogma dan fakta
itulah tugas kita
menemukannya!
karena ia memang ada..
jalani.
nikmati.
dan lihat semua dari segala sisi!
jika pun tak mampu,
pandanglah sisi yang mampu mengukir senyummu.
pandanglah suatu tempat yang membuatmu mampu bertahmid pada penguasa jiwamu.....
Terinspirasi dari sebuah cuplikan sosial yang saya temui baru2 ini. Sebenarnya hal yg satu ini sudah biasa di kehidupan sehari- hari, terutama tak lepas dari sifat kemasyarakatan yg tentunya dimiliki oleh tiap individu. Ya, manusia sebagai makhluk sosial yang sudah pasti memiliki berbagai keunikan dari sisi- sisi bersosialisasinya.
Proses ini disebut basa- basi. Saya tak akan membahasnya secara formal [misalnya dari segi etimologi ataupun berdasarkan teori- teori sosial yang banyak dikemukakan para sarjana]. Yang akan saya ceritakan di sini mengenai sisi lain dari basa- basi.
Keunikan dari basa- basi adalah betapa 'basa- basi' nya masyarakat kita. Basa- basinya itu hampir ditempatkan nyaris di segala sisi bermasyarakat. Yang saya temui baru- baru ini adalah basa- basi yg digunakan dalam menagih hutang. Ketika itu si penagih masih sempat tertawa kecil dan "berbasa- basi" pada orang yg ditagihnya. Ia menanyakan apakah kalau uang itu ia ambil, si ibu masih bisa belanja [kebetulan waktu itu kejadian ini berlangsung di tengah jalan dekat pasar]. Si ibu tertawa kecil juga dan menjawab bahwa uang belanjanya masih ada. Lalu si penagih mengambil uang yang diberi ibu itu seraya menambahkan ; "iya, soalnya saya mau beli peralatan lampu. Tapi kalau uangnya masih diperlukan, ndak apa- apalah".
Adegan yg lumrah, bukan? Namun setelah saya kupas sedikit, ternyata basa- basi itu acap digunakan untuk membumbui maksud tertentu agar lebih halus dan santun penyampaiannya.
Salah? Tentu tidak. Ini budaya, kawan. Ya, budaya basa- basi.
Proses ini disebut basa- basi. Saya tak akan membahasnya secara formal [misalnya dari segi etimologi ataupun berdasarkan teori- teori sosial yang banyak dikemukakan para sarjana]. Yang akan saya ceritakan di sini mengenai sisi lain dari basa- basi.
Keunikan dari basa- basi adalah betapa 'basa- basi' nya masyarakat kita. Basa- basinya itu hampir ditempatkan nyaris di segala sisi bermasyarakat. Yang saya temui baru- baru ini adalah basa- basi yg digunakan dalam menagih hutang. Ketika itu si penagih masih sempat tertawa kecil dan "berbasa- basi" pada orang yg ditagihnya. Ia menanyakan apakah kalau uang itu ia ambil, si ibu masih bisa belanja [kebetulan waktu itu kejadian ini berlangsung di tengah jalan dekat pasar]. Si ibu tertawa kecil juga dan menjawab bahwa uang belanjanya masih ada. Lalu si penagih mengambil uang yang diberi ibu itu seraya menambahkan ; "iya, soalnya saya mau beli peralatan lampu. Tapi kalau uangnya masih diperlukan, ndak apa- apalah".
Adegan yg lumrah, bukan? Namun setelah saya kupas sedikit, ternyata basa- basi itu acap digunakan untuk membumbui maksud tertentu agar lebih halus dan santun penyampaiannya.
Salah? Tentu tidak. Ini budaya, kawan. Ya, budaya basa- basi.
Angin tetap menyayat rasa, mengilukan tulang yang
bergemeretak diketuk rapuh, memberitakan
selembar kemengenasan yang telah terperistiwa. Tak ada yang melihatku terpaku
di sini –setidaknya tak ada yang peduli. Mereka tetap pada hingar pesta kemenangan atas kematian- kematian. Botol-
botol, tawa, umpatan beserta segenap hal yang bagiku pun menjijikkan, menyesaki
bangunan hampir gedung itu. Tak ada yang melihatku, tak senyawa juga yang
peduli padaku.
Kembali kukoyak udara malam
dengan jejak- jejakku. Aroma amis darah masih seperti biasa. Terkadang
diselingi rintih bagi yang masih bernyawa, yang masih sanggup untuk merintih.
Segalanya serba masih karena jiwa- jiwa laknat itu perlahan menghabisi nyawa-
nyawa tanpa dosa.
”Allaaaahhhhh....!!!”
”Hahaha...”.
Allahu Akbar, apa
lagi itu? Cepat kuayunkan tungkai mendekati sumber jeritan. Tiga ratus meter dari
posisiku tadi, seorang ummu dan dua
bocahnya tergelepar di tanah. Darah lagi. Dan itu, ah, betapa aku jijik melihat
ia dan gerombolannya. Tentara- tentara jahanam itu! Mereka tetap terbahak meski
manusia di hadapan mereka meregang menahan sakit sembari terus mendesis-
desiskan asma Robbnya. Dua bocah itu malah tak lagi bergerak kini. Innalillahi...
”Seharusnya kau tak menolak kehadiran
kami. Kau dan bocah- bocah itu tahu konsekuensinya. Dan harusnya Hamas pun
mengerti. Tak ada yang berhak hidup selama mengagangi langkah kami. Hahaha...”,
pria berseragam itu mengoceh tak karuan, seolah mengomandoi pasukan di
belakangnya untuk terus melanjutkan tawa.
Cih! Pengecut! Kalian tak
sadar bahwa ini bukti nyata kepengecutan jiwa laknat kalian. Apa dayanya
seorang ummu muda beserta dua bocah
yang kutaksir tak genap lima tahun itu, dan pecundang- pecundang ini mesti
’menyelesaikan’ mereka dengan pasukan yang hitungannya melebihi nominal jari-
jariku. Haha... Mestinya aku yang tertawa melihat ini. Benar- benar
menggelikan. Lalu nanti dusta apa lagi yang akan mereka umbar di media- media
dunia mengenai darah Gaza? Andai tubuhku mampu membesar, aku ingin mencabik
jantung yang memompa darah para pendosa itu. Kulumatkan semua di sela kuku- kukuku.
”Kita akan meninggalkannya
begitu saja, Dean?”, tanya salah satu di antara mereka. Yang dipanggil ’Dean’ –oh, nama itu, aku tak
merasa asing padanya. Aku merasa benar tahu dengannya. Masya Allah.....dia!
”Meninggalkannya begitu saja? Kau
pikir aku gila? Ini satu lagi kesempatan membuat bodoh pria- pria gila Hamas
itu! Tinggalkan jejak seolah ini perbuatan mereka, mereka yang bertanggung
jawab dalam pesta kita kali ini”, Dean
menyeringai sinis.
Aku tak bisa diam lagi. Sekecil apapun, aku mesti lakukan sesuatu.
Tak akan kubiarkan tangan jahanam itu menyentuh sang perempuan suci yang......subhanallah, ia masih hidup. Aku bisa
merasakannya, aroma nafasnya masih ada. Perlahan kudekati ia, kurasakan mata
Dean menatapku lekat karena baru sadar keberadaanku. Aku tetap mendekat,
mengacuhkannya. Beberapa orang siap mencanangkan pistol mereka. Dean tetap
menatapku, aku tetap maju.
”Ambil saja untukmu”, lirihnya
lembut. Aku tak peduli, kau izinkan atau tidak pun aku tetap akan
’mengambil’nya dari kau dan pasukanmu.
Dean melangkah menjauh, mengodekan
kepada rombongan untuk mengikuti langkahnya. Kubiarkan ia menjauh, pikiranku
kembali mengingat beberapa hal lalu yang mungkin akan bermanfaat suatu saat.
Tapi itu dapat dilakukan nanti, masih ada waktu, insya Allah.
Aku kembali mendekat pada ummu yang terkapar. Bau darah dari
tubuhnya begitu jelas, namun tak terlihat karena abaya hitam yang ia kenakan. Ah, andai saja boleh dan bisa, ingin kuulurkan tangan ini memapahnya menuju
suatu tempat aman, markas Hamas misalnya. Namun kumengerti, selain memang aku
tak mampu, aku pun tak boleh.
Ia menatapku. Seperti takut
atau jijik. Entahlah. Aku maklumi karena keadaanku memang begitu kini.
Menakutkan, menjijikkan. Termuara puji bagi Allah karena masih Memberi rasa iba
pada mereka untuk membiarkan aku tetap hidup. Kembali ke si ummu, ia terus menatapku. Dari bibirnya yang bergetar kudengar
dengungan bagai dengung lebah, namun sungguh menenangkan. Aku menyimak
dengungannya, subhanallah... Kalimat
itu.... Andai aku tahu bagaimana caranya menunjukkan senyumku, aku akan
lakukan. Aku akan tersenyum padanya atas apa yang ia ucapkan. Namun perlahan
dengungan itu kian samar dan...... hilang. Inalillahi....
Satu lagi.
Aku berbalik menjauh,
melangkah gontai. Ingatan- ingatanku berkelebat satu- satu. Penjara Ramallah....salah satu saksi
kebiadaban tentara- tentara itu. Aku melihatnya sendiri. Ketika kuku- kuku para
mujahidin itu dicabuti hingga habis, tak cukup sekedar itu, sumber- sumber
darah mereka disirami cairan kimia panas.... Ketika mereka dipanggang dalam ’kotak neraka’ di
tengah lapangan gersang.... Ketika para tentara itu dengan keji menjadikan
mujahid- mujahid itu sebagai pelampiasan nafsu kotor mereka.... Bahkan ketika
penegak agama Allah itu dimasukkan ke ruangan berisi anjing lapar.... Masya Allah.... untuk bagian itu Dean
dan akulah yang bertugas.... Dean. Dean. Dean. Terlalu banyak kenanganku
bersamanya sebelum ia mendapat penggantiku. Tua, tak layak lagi, itu alasan
mereka. Aku tak berontak meski sebenarnya aku bisa. Kususuri jejalan Palestina
setelahnya, mencari makan dari onggokan sampah atau benar- benar mencari
sendiri, bersaing dengan yang lain. Tak ada penduduk yang kasihan melihatku.
Aku tahu, mereka tahu aku masih gagah, masih sanggup untuk sekedar mencari apa
yang dapat mengenyangkan perut. Ini kujalani berbulan- bulan lamanya. Selama berbulan- bulan pula aku masih menjadi
saksi kebiadaban tentara- tentara laknat itu. Aku pernah melihat seorang ummu disiksa habis- habisan karena tak
memberi tahu keberadaan suaminya yang ternyata mujahid Hamas. Setelah puas
menendangi, para tentara itu mengoyak habis perut si ummu yang tengah hamil besar. Masya
Allah... Aku pun pernah melihat seorang tua yang tangannya diikat di sebuah
tank lalu diseret ke tengah lapangan gersang setelah sebelumnya melalui aspal-
aspal panas dan berlubang Gaza. Aku telah melihat semua! Seandainya PBB
memerlukan saksi untuk ini, aku siap. Demi Allah aku siap.
Aku terus sendiri. Dan saat
aku merasa ingin dipedulikan, atau setidaknya dianggap ada oleh yang lainnya,
Allah bimbing langkahku pada suatu rumah. Aku tak berani masuk kala itu, aku tahu itu bukan
caranya. Kutunggu seseorang keluar dari pintu. Hingga seorang pemuda yang
kukira masih berumur 19 tahun keluar dengan membawa ketapel dan –sepertinya
batu- batu di kantong celananya. Ia menatapku. Sepeti takut atau jijik. Yeah, kumaklumi. Saat itu aku benar-
benar telah menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan. Bukan aku yang tegap seperti beberapa
bulan lalu. Tubuhku kini
ringkih, bias- bias rusuk di dadaku kian jelas tampak. Dan, uh, penuh kudis.
Pemuda itu masuk lagi ke dalam
rumahnya. Kutunggui (entah kenapa aku yakin ia akan memberiku sekerat roti). Keyakinanku benar, ia datang kembali
dengan sepotong roti di tangannya. Diletakkannya di tanah di hadapanku. Haha, aku tahu ia tak akan
menjulurkannya padaku. Kuraih, ia jongkok, menungguiku menghabiskan makan.
”Maaf, aku tak bisa
mengizinkanmu tinggal berlama- lama di sini”, ucapnya saat itu. Ya, ya, aku juga
tahu itu. Dia tak akan memintaku tinggal, ia akan segera menyuruhku pergi. Maka
selesai makan aku pergi, dan ia melanjutkan langkahnya.
Itulah, hanya sebatas itu aku
mengetahuinya. Pemuda Ketapel aku menamainya. Aku ingat persis garis- garis
keras dan rahang kukuh di
wajahnya itu. Entah sudah berapa waktu. Mungkin setengah tahun. Entahlah, aku
jarang menghitung masa.
Kujejaki lagi jalan- jalan
Gaza dengan langkahku. Bau amis darah tetap ada. Di mana- mana. Tangis dan
rintih pun masih terdengar. Dan......tembakan! Ada suara letusan pistol di
sana. Cepat aku berlari. Tak jauh memang, tapi sangat membuat nafasku tersengal
–ah, inilah dampak ketuaanku. Di depanku sudah ada tiga laki- laki berkafiyeh
yang berdiri melingkari sesuatu. Aku ingin tahu apa yang mereka amati. Allahu Akbar! Itu si Pemuda Ketapel.
Kepalanya telah berlubang sebesar peluru. Darah. Darah segar mengalir deras
dari sana. Allah... Dan orang- orang berjubah ini...... Ah,
tidak. Ada pistol tergenggam di salah satu tangan mereka. Di...... orang itu.
Dia!
Aku benar- benar tak dapat
diam lagi. Kupersiapkan diri untuk melompat. Sungguh aku ingin melumatkan ia
dengan kuku- kukuku.
”Hei, kau lagi. Kau juga
menginginkannya? Maaf, teman, aku berjanji pada Letnan untuk membawa mayatnya”,
ujar Dean sumringah padaku.
Cih! Aku tak peduli! Kau dan
gerombolanmu itu telah banyak menenggak darah Gaza, duka Palestina. Kau dan
gerombolanmu itu sudah menginjak- injak tanah suci ini dengan dosa- dosa dan
kedurhakaan kalian!
Aku tak akan diam!
Kupersiapkan diri untuk
melompat. Aku yakin aku masih
mampu.
Bismillah.
Hup!
Tepat wajahnya.
Segera aku beraksi. Ingin segera aku lumatkan ia dengan kuku-
kukuku.
Ia meronta.
”Hei, cepat bunuh anjing gila
ini....!!!”.
Hahahaha... bagus. Aku
berhasil. Naluri
kebinatanganku menunjukkan reaksi setelah beralam- lama tak aku gunakan. Wajahnya telah tercarut oleh cakaran-
cakaranku.
DOR!!!
Ufh, sial, gerakan mereka
cepat juga. Tapi aku tak peduli. Kucari nadinya, taringku masih lumayan kuat
jika hanya untuk membocorkan urat vital itu.
DORR!!
Tembakan kedua. Aku juga tak
peduli. Biarlah. Biarlah darah yang keluar dari perutku ini membasahi tubuhnya.
Tubuh komandan mereka. Karena ia sama najisnya dengan aku. Hahahaha....
Ketemu.
Bismillah.
Ternyata rahangku tak berubah
kemampuan. Alhamdulillah...
Darah segar terpancar dari
leher Dean, bercampur dengan darahku. Rontaannya melemah. Aku pun begitu, melemah. Tapi aku bangga. Entahlah. Aku
memang makhluk najis, namun aku percaya Allah tak sia- sia menciptakanku.
Gelap.
”Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami
gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk
tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”
pada
sebuah noktah,
30 November 2010
Senin, 07 Mei 2012
kuliah
0
comments
KEBEBASAN PERS, ETIKA ISLAM DAN PERANAN PERS DALAM PERKEMBANGAN DAKWAH
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berakhirnya
masa Orde Baru pada tahun 1998 menjadi titik tolak dalam pesatnya perkembangan
pers Indonesia. Seolah ada semacam euforia
dalam hal ini. Pers yang selama 32 tahun dikekang habis- habisan oleh penguasa,
saat itu benar- benar merasa terbebaskan terutama dengan adanya kebijakan
Presiden Habibie yang mencabut adanya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).
Namun
belakangan, terlalu bebasnya pers Indonesia malah seperti lepas kontrol. Segala
berita diinformasikan, seolah tidak ada yang perlu dibatasi di negeri ini.
Apalagi parahnya, dalil kebebasan pers ini dijadikan tameng oleh para pekerja
infotainment untuk membeber habis segala privasi mereka yang dianggap sebagai ‘public figure’.
Negara
kita bukan negara sekuler (setidaknya pemerintah tidak secara terang- terangan
menyatakan hal ini) yang memisahkan urusan kenegaraan dan batasan- batasan
agama. Maka dari itu segala hal yang dilakukan mestinya difilter kembali dari
sudut aturan agama. Terutama bagi Indonesia yang sebagian besar penduduknya
beragama Islam, kebebasan pers pun hendaknya tidak melanggar syariat.
apa kau pernah merasa rindu?
tidak, bukan rindu yg biasa
tapi rindu begitu yg luar biasa.
yang bercampur cemas dan ingin tahu kabarmu
apa kau pernah merasa rindu?
tidak, bukan rindu yg biasa
tapi yang bercambur sedan tertahan
yg bercampur bendungan air mata
apa kau pernah merasa rindu?
seperti saat ini...
tidak, bukan rindu yg biasa
tapi rindu begitu yg luar biasa.
yang bercampur cemas dan ingin tahu kabarmu
apa kau pernah merasa rindu?
tidak, bukan rindu yg biasa
tapi yang bercambur sedan tertahan
yg bercampur bendungan air mata
apa kau pernah merasa rindu?
seperti saat ini...
kau tak kan mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau takkan mengerti segala lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku.. tungku tanpa api
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau takkan mengerti segala lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti aku.. tungku tanpa api
tiap waktu kubuka pintu itu,
aku hanya harap ada senyummu yg telah menunggu.
aku ingin melihat senyum itu berkali- kali lagi tanpa henti.
aku ingin membawanya ke mimpi.
aku ingin tetap di belakangmu
mengikuti, menatap punggung itu...
lalu apa yang kita takuti selain perpisahan dan penyesalan.
semua tak akan selesai jika melulu dijawab dengan air mata,
tanpa penjelasan.
maka bedakan membuang dan dibuang.
mana yang rugi dan yang tak berarti.
karena aku mencintaimu tanpa alasan.
aku masih menunggu di depan pintu.
menunggu satu- satu awan putih berubah kelabu.
menunggu senyum merdu yang dulu menyapaku.
aku tetap di depan pintu.
menanti hal indah yang kini bersembunyi...
hujan.
aku hanya harap ada senyummu yg telah menunggu.
aku ingin melihat senyum itu berkali- kali lagi tanpa henti.
aku ingin membawanya ke mimpi.
aku ingin tetap di belakangmu
mengikuti, menatap punggung itu...
lalu apa yang kita takuti selain perpisahan dan penyesalan.
semua tak akan selesai jika melulu dijawab dengan air mata,
tanpa penjelasan.
maka bedakan membuang dan dibuang.
mana yang rugi dan yang tak berarti.
karena aku mencintaimu tanpa alasan.
aku masih menunggu di depan pintu.
menunggu satu- satu awan putih berubah kelabu.
menunggu senyum merdu yang dulu menyapaku.
aku tetap di depan pintu.
menanti hal indah yang kini bersembunyi...
hujan.
Keunggulan pembangunan berbasis masyarakat adalah:
- kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam proses pembangunan
- konsep teteknologi tepat guna. indigenous technology, indigenous knowledge, dan indigenous institutions sebagai akibat kegagalan konsep transfer teknologi.
- tuntunan masyarakat dunia tentang hak asasi, keadilan dan kepastian hukum dalam proses pembangunan.
- konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang merupakan suatu alternatif paradigma pembangunan baru.
- LSM
Mentari 14 Juli
( Al
Humairaa )
”Kau tau Han, sinar mentari itu
indah, karena ia tanda secercah asa”.
Sepenggal kalimat yang
membuat wajah Hana bersemu merah dan untuk pertama kali pula ia jatuh cinta.
14
Juli 2010
Hana masih terpekur di atas
sajadah lusuhnya. Sesekali burung bangkai
yang sudah beberapa minggu bertengger di atap rumah bercrit- crit ria.
Membuktikan sungguh sepi subuh ini. Sementara Hana sibuk berzikir di atas
sajadah lusuhnya, sajadah mahar dari sang suami.
Hana terus berzikir.
2 Januari 2008
“Aku ingin kita kembali ke Sumatera. Berkebun di sana lebih menjamin dibanding
menjadi buruh di sini. Lagipula ada Mamak dan Bapak yang bisa aku bantu,
atau malah mereka yang bisa membantu kita”, ujar Alan ba’da mengimami istrinya sholat
maghrib. Hana diam.
Memang benar apa yang Alan katakan, di Sumatera kemungkinan mereka bertahan hidup lebih besar dibanding di pencilan
Madura ini. Tapi untuk ke sana juga butuh biaya yang cukup besar. Setidaknya
lima juta! Dan darimana mereka punya uang sebanyak itu? Membayangkan pun Hana
tak tega.
”Aku tau kau bingung, atau mungkin ragu.... tapi tolong
fikirkanlah dulu. Ini demi kita dan bayi di perutmu itu, Han”, bujuk Alan.
”Tapi perjalanan ke sana juga membutuhkan
biaya. Dari mana kita punya uang?”, Hana hendak berkeras, karena tahu
kemustahilan ide suaminya itu.
Alan
diam sementara, seperti berpikir. Hana pun diam. Kembali ke Sumatera adalah keinginannya juga
sejak menikah dengan Alan setahun silam. Bersuamikan Alan yang sesama perantau
Sumatera telah memunculkan harapannya untuk bisa kembali bertemu kedua orang
tua di beda nusa. Tapi rasionalitas dan kejujuran untuk mengakui bahwa kondisi
hidup mereka saat ini sungguh jauh dari mampu untuk kembali telah mematahkan
asa- asa itu.
”Atau
biarkanlah aku dulu yang pulang ke sana, nanti kau kukirimi uang untuk menyusul”.
Hana
mendongak separuh terkejut. Ini lebih mustahil! Meninggalkan ia dan kandungan
tuanya sendiri di sini, tanpa sanak saudara dan sebagainya, bahkan tak ada jaminan
biaya hidup yang cukup setidaknya untuk bertahan hingga Alan mengirimkan uang
dari Sumatera? Ah,
ini tak masuk akal. Apa alasan untuk tetap bertahan di sini? Bagaimana jika tiba
masanya ia melahirkan? Hana tak dapat menerimanya. Ia bukan istri yang terlalu
kuat untuk menghadapi ini. Dan ia yakin sekuat apapun perempuan pasti
membutuhkan suami di sisinya dalam hari- hari penantian seperti dirinya
sekarang.
”Kau tega meninggalkan aku dan kandungan ini?”, Hana nyaris menangis.
”Tak ada jalan lain , Han. Aku ingin bayi kita hidup. Dan hidupnya pun selayak bayi
lainnya yang dapat minum susu dan makan bubur serta buah dan sebagainya. Kita
sangat tau tak ada harapan untuk itu jika terus bertahan di sini”.
Itulah.
Alan pergi (atau kembali?) ke Sumatera tanpa Hana.
Itu dua tahun lalu. Sebelum
Alan diajak kemenakan tetua kampung untuk menemaninya menuju
Sumatera. Alan difasilitasi penuh untuk semua itu. Ongkos hingga makan dan segenap
keperluan hingga tiba di sana. Hana hanya bisa pasrah. Tak ada kata terucap
tika menyalami Alan sebelum mengangkut diri ke mobil sayur yang akan
menibakannya di pelabuhan, meski ada air mata yang sama- sama tertahan di sana.
Maret 2008
Tak ada yang bisa
disalahkan atas tiap musibah. Sebuah
ketentuan, titah Yang Maha Kuasa. Begitupun Hana, ia hanya terdiam lemas
menatapi bayi yang keluar tanpa tangis itu. Tak ada yang mampu ia salahkan,
ataupun untuk sekedar ia tangisi. Perjalanan hidupnya selama ini lebih
menyakitkan dibanding ’sekedar’ kehilangan sesuatu yang memang belum
miliknya. Lagi, tak ada kata terucap senja itu. Ia segera memohon tolong Mbah
Yah untuk mengurusi sang makhluk hampir bayi.
12 Juli 2010
Hana tetap berzikir
–kebiasaan baru yang didapati sejak menumpang hidup pada Ustazah Romlah. Kadang
ada tangis di sela katupan- katupan matanya. Sebuah kebohongan besar jika ia
katakan ia tak merindui sang
suami. Namun kepasrahan telah mengalahkan segala. Hampir tak ada lagi asa untuk bertemu yang
dulu memenuhi hatinya. Hanya
ada doa- doa indah melantun tiap tika ia selesai salat. Ia pasrah. Ya, sepasrah- pasrahnya.
Di sudut lain di dunia, di
balik tiang- tiang besi ringkih. Seorang lelaki muda bersedekap dengan betisnya
di ujung ruang. Tubuhnya banyak lebam. Ruang pengap ini jadi tempat tinggalnya
sejak dua tahun silam. Bertetangga sesama pesakitan.
Selayak seorang perempuan
yang dicintainya di sana yang mungkin kini tengah mengasuh bocah kecil mereka,
ia hanya diam, tak mampu berucap. Apapun. Tak ada kata, tiada pula yang tega
untuk ia sesali.
Tak ada penyesalan tentang
keinginannya untuk kembali (atau pergi?) ke tempat lahirnya. Tak ada penyesalan
tentang kesediaannya untuk diperintah mengantar bungkusan hitam itu ke
Sumatera. Tak ada penyesalan mengenai kebungkamannya saat ditanyai identitas.
Karena itu semua ia lakukan untuk istri dan calon bayi yang begitu ia cinta. Ia
tak akan pernah rela jika orang- orang berseragam itu mendatangi istrinya dan
mengabari nasib yang ia alami kini. Maka ia pilih bungkam meski nyawanya
mungkin tinggal dua hari. Ya, ia
telah ditetapi mati. Tak ada hidup bagi pembawa heroin.
Sinar mentari hari ini
begitu suram baginya. Seolah
tak ada asa seperti yang ia katakan ketika itu.
14 Juli 2010
Mentari pagi ini.
Ia terpaku. Masih dengan
lantunan zikir. Tatkala nur surya yang merambat melalui kisi jendela tepat
mengena ke wajah, tangisnya pecah. Ia tertunduk dalam- dalam. Seperti
mengeluarkan segala luka pedih yang dipendamnya selama ini, membiarkan semua
pergi tanpa sisa. Ia habiskan air matanya pagi itu. Lalu ia tersungkur di atas
sajadah mahar. Tangisnya tak henti hingga tubuh kurusnya terguncang- guncang.
Ia terus menangis.
Pedih.
Seorang berseragam
memanggil si pria ringkih dan penuh lebam keluar. Si pria tahu ini waktunya.
Ia tetap diam.
Bungkam.
Pasrah.
Hana masih menangis. Deras
sekali. Ia bukan tak menahannya, tapi justru karena pertahanannya tak mampu
lagi membendung air matanya. Bukan pula karena ingin terlihat lemah. Melainkan
tangisnya itu bukti bahwa ia tak dapat lagi berpura- pura kuat.
Ia terus tersedu.
Hatinya kian pedih karena
ini 14 Juli. Ia ingin menjumpai suaminya di manapun ia berada kini. Hana hanya
ingin mengucap selamat hari lahir bagi separuh nyawanya itu....
Namun Hana hanya mampu
menangis pedih.
Selamat hari lahir cinta….
Ada sebuah kasih menantimu di sini
Berharap dapat melisankan langsung
Mengucap doa tulus pada harimu...
Selamat hari lahir cinta...
Ada segenggam rindu di sini
Menanti untuk kau mengerti dan raih...
Selamat hari lahir cinta....
Beribu haru berjibaku di sini
Tika menyadari harimu telah berkurang satu- satu
Berlomba bertasbih agar tetap berkah usia
Selamat hari lahir cinta....
Aku masih bertahan menanti...
Semampu aku bisa...
Palembang,
Juli 2010
sebuah catatan rindu
Langganan:
Postingan (Atom)




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact