Ini sabtu yang benar- benar berharga buatku. Allah beri pelajaran melalui dua makhluk-Nya yang berbeda sifat. Ya, Boy dan si kecil Aisyah.
Langsung saja aku cerita.
Sore tadi saat aku ke ruang staf BAAK Fakultas untuk meminta stempel, tiba- tiba seorang gadis kecil berjilbab menghampiriku. Masih dengan seragam pramukanya. Ia mengerjaiku saat aku menstempel laporan. "Salah tuh Mbak capnya", ujarnya berlagak lugu. Padahal aku yakin betul itu cap yang tepat. Aku tersenyum padanya. Kupikir dia gadis kecil manis yang lembut dan anggun. Tapi dugaanku tak sepenuhnya benar. Ia memang gadis kecil yang manis, namun ternyata cukup tomboy.
Seusai mencap aku menunggu temanku di kursi depan ruang BAAK. Dia juga ikut. Duduk di sampingku. Liza, teman yang juga menunggu bersamaku, menyapanya. Dan gadis kecil ini menjawab dengan gaya cueknya. Aku penasaran ini anak siapa. Liza bilang itu anak Pak Kusnadi, dekan kami. Ia sedang menunggu ayahnya yang lagi mengajar di Pascasarjana IAIN.
Gadis kecil manis dan tomboy itu bernama Aisyah. Masih duduk di bangku MIN kelas 5. Jilbabnya rapi dan tak dilepas meski sudah tidak berada di lingkungan sekolahnya lagi. Dan jangan kira dia akan menjawab lembut jika ditanya, karena jawabannya pasti: "trus masalah buat gue?" / "ciyus? mi apa?" / "kasih tau nggak yaa..". Awalnya benar2 ingin mencubit geram pipi tembemnya saat pertanyaan2ku dijawab begitu. Si Aisyah ini benar2 menggemaskan dengan sifatnya itu.
Tak lama waktu yang kami perlukan untuk bisa akrab. Sekitar lima belas menit menunggu, kami dan Aisyah sudah akrab betul. Bahkan setelah menyerahkan laporan ke Bendahara Fakultas, kami mengajak Aisyah ke ruang BEMF, melihat teman2 yang masih membuat laporan. Dia mau dan sangat semangat.
Hal yang membuatku takjub dengan Aisyah adalah pada saat adzan Ashar. Dia langsung menarik tanganku dan berkata; "mbak, sholat..." Aku masih membantu teman2 untuk menyelesaikan laporan. Belum beranjak untuk sholat. Aisyah kecil tetap merengek, "ayo mbak, sholat itu harus ditegakkan".
Rasanya ada deburan hangat saat itu. Deburan yang membuat berpikir kembali tentang sholat2 selama ini. Kadang masih sibuk dengan rapat dan segala macamnya saat adzan bergema di langit kampus. Alasan tanggung dan sebagainyalah.
Dan sore ini Allah kirim Aisyah.
Aisyah yang berjilbab rapi dan mempertahankan jilbabnya. Aisyah yang langsung bangkit saat mendengar adzan. Aisyah yang langsung kembali ke ruangan ayahnya untuk berwudhu dan sholat. Ah, Aisyah, gadis kecil manis yang sholehah, dan ................... tomboy ;)
--------------------------------------------------------------------------------
Sepulang dari kampus aku seperti melihat hal yang berkebalikan. Aku mendapat kabar seorang teman masa kecilku tewas. Ya, tewas. Cara meninggal yang mengenaskan. Beberapa tikaman mendarat di tubuhnya. Menurut informasi yang kudapat, temanku itu sudah meninggal sejak malam kemarin (30/11). Tapi baru pagi (1/12) ditemukan oleh polisi. Dan yang lebih miris, sehabis magrib tadi keluarganya baru tau kejadian itu.
Ah, ini benar2 kontras dengan pengalamanku yang tak sampai lima jam sebelumnya. Saat aku bertemu Aisyah.
Aku ingat masa hidup temanku itu. Teman yang umurnya sama denganku. Cuma beda sepuluh hari.
Kami bukan teman sekolah. Dia pindah ke kampungku saat aku kelas 6 SD. Cukup akrab waktu itu. Dia teman balap sepedaku.
Tapi sejak SMP kami nyaris tak pernah interaksi lagi. Orang tuaku tidak suka aku berteman dengannya. Yah, dia sudah mulai berubah jadi seorang berandal. Ditambah basic orang tuanya yang nyata- nyata mencari uang tidak dengan cara halal. Sejak itu aku hanya tahu kisah hidupnya dari orang- orang kampung yang sering membicarakannya. Termasuk ibuku.
Yang ku tau, hidupnya diisi dengan maksiat- maksiat. Segala jenis maksiat sudah dilakukannya. Tak perlu kusebutkan satu- satu. Tapi, meski berandal begitu, dia tetap hormat pada orang tuaku. Segan mungkin. Meski tiap pedagang di area orang tuaku 'diwajibkan' memberi 'upeti' kepadanya, tapi ia sama sekali tak berani meminta ke orang tuaku. Ia seperti menganggap orang tuaku selayak uwaknya sendiri.
Ah, Boy --begitu kami memanggilnya. Usia sembilan belas yang sia- sia. Tanpa makna.
---------------------------------------------------------------------------------
Aku jadi ingat lagi Aisyah. Aku mau bertemu lagi dengan dia. Dan mendapat pelajaran2 tersembunyi yang ada di pribadinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar