Minggu, 26 Agustus 2012 3 comments

Be eL O Ge

bismillah.
kali ini sebenernya "curhat". Tentang satu media manis yg disebut BLOG.

Entah kapan dapet pengetahuan pertama tentang #Blog, yang jelas dulu taunya ini semacem diary online gitulah. Kalo buat puisi bisa diposting di #Blog, buat cerpen gitu juga. Pokoke whatever you wrote, you posting deh. Yah, intinya yang namanya #Blog itu emang tempat untuk ngeshare tulisan. Biarpun nggak jelas share  ke siapa, atau makhluk sejenis apa yang baca.

Sabtu, 11 Agustus 2012 0 comments

SELAMAT HARI LAHIR, ABANG...

Selamat mengingat hari lahir ya Abangku sayang. Semoga jadi pribadi yang lebih bermakna dari sebelumnya, jadi Abang yang lebih baik buat kami, dan jadi mahasiswa yang lebih rajin belajar :p


Sedikit Kisah Abang......
Dari dulu emang jarang deket dgn Abang, soale pisah asuhan. Dari umur setahun Abang sudah dibawa Makwo ke Lahat (soale anak-cowok Makwo satu2nya meninggal). Ke Palembang cuma kalo libur sekolah atau pas lebaran doang. Jadi kami benar2 jarang interaksi.
Si Abang orangnya cuek, jadi ndak hobi ngasih kabar ke Palembang. Bales sms jg sesingkat2nya. Yah, jadi terbayanglah betapa 'jauh'nya kami.

Abang balik ke Palembang lagi sejak SNMPTN, karena ngambil les intensif di sini. Rencananya sih mau kuliah di Unsri (entah jurusan apa, yg penting Unsri!). Dan kami sekeluarga -termasuk Makwo -ragu kalo Abang bakal lulus. Maka Abang sempet kuliah di LP3i (lulus SMA ajee meragukan Abangku itu). Kuliah di LP3i itu sambil nunggu pengumuman SNMPTN. (Akhirnya Abang ambil pilihan 1 di Adm Negara dan pilihan 2 di Sosiologi).
Dan......amat tak disangka- sangka, beliau lulus di pilihan ke-2 nya. JURUSAN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK. Weh weh, kebayang kan, betapa gemparnya seisi rumah pas ada nama SYAFRIAN WAHID di halaman pengumuman kelulusan SNMPTN.
Setelah itu Abang memulai hari2nya di Inderalaya tercinta. 

Abang ikut kegiatan MASOPALA. Turun- naik gunung, pelatihan navigasi, dsb. Nilai- nilainya cukup berantakan. Sekali dapet nilai A, nilai D sudah bertengger 4. Tapi hal yg cukup membanggakan dari Abang adalah waktu beliau jd salah satu tim kampanye Sea Games jalur laut. Jadi yang dipilih kan cuma 5 orang: 2 dari UI, 2 Unsri, dan 1 dari Trisakti. Nah Abang termasuk salah satu dari 2 orang mahasiswa Unsri yang ditunjuk utk kampanye itu ^^



Yah, kira2 itulah sedikit kisah Abang. Abang yang benar2 jarang pulang -_-
Ramadhan ini, baru sehari dia pulang ke Palembang, itu pun gara2 Bapak terus2an nelpon. Lagi ikut SP katanya.
Hmm... Abang...
Selamat Mengingat Hari Lahir yang ke-21, Abangku sayang... 
We love and miss U so much :*

0 comments

LIRIK LAGU I'LL BE GONE

Like shining oil, this night is dripping down
 Stars are slipping down, glistening
And I'm trying not to think what I'm leaving now
No deceiving now,
it's time you let me know.
Let me know
 
 When the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone, I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
Climbing through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
 
This in between us is getting thinner now into winter now,
bitter sweet across that horizon this sun is setting down
 You're forgetting now, its time you let me go, let me go
 
When the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone, I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
Climbing through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
 
And tell them I couldn't help myself
 And tell them I was alone
Oh, tell me I am the only one and there's nothing left to stop me.

When the lights go out and we open our eyes,
out there in the silence, I'll be gone, I'll be gone.
Let the sun fade out and another one rise
 Climbing through tomorrow, I'll be gone, I'll be gone.
Kamis, 02 Agustus 2012 0 comments

Kita Sedang Jatuh Cinta, Sayang...

kita sedang jatuh cinta, Sayang...
ku tau itu dalam sendu tatapmu...
mengasa jauh dalam syahdu dan pesona langit biru..

kita sedang jatuh cinta, Sayang..
saat kau lantunkan untukku doa- doa di tiap tahajudmu,
dan gemerisik tasbih rindu mengalun syahdu di malam- malam kita...
membiarkan sunyi jadi saksi deburan- deburan harapan...


kita sedang jatuh cinta, Sayang...
ketika kau kubangunkan di fajar dan kita berlayar di atas ombak ma'rifat-Nya...

kita sedang jatuh cinta, Sayang...
karna jingga- jingga tak selamanya bermakna senja...
dan merah jambu tak melulu mawar- mawar di taman kita...


lalu kita terus jatuh cinta, Sayang...
dalam pendakian mimpi mengantri di jannah-Nya...


maka kupinta kau teruskan tasbih itu bersamaku...
biarkan mereka menyajikan air kautsar untuk kita nanti...

teruskan tasbih itu, Sayang...
dan kita akan terus jatuh cinta....




*untuk kalian, L-Mujahidah Crew
biarkan rabithah mengikat kita dalam dekap cinta-Nya

0 comments

B E L A J AR

taukah?



ketika aku lelah,,

aku berkeluh kesah.,,

dan itu sama sekali tak kurangi lelahku.



namun tika aku memandangnya dari sebuah sudut berbeda,

yang dibahasakan orang sebagai indah,

di sanalah ada bahagia.



perjalanan hidup membuat orang terus mengalami proses pembelajaran..

menemui, menghadapi berbagai perbedaan..

menentukan sebuah nilai yang baik dan yang buruk

hingga akhirnya menemukan apa yang dimaksud dengan kebenaran

apa itu arti keindahan

dan bagaimana merasakan kebahagiaan





bagaimana pun hidup mesti tetap dijalani.,

tak ada kata henti kecuali mati.



terus mencari

meyakini doktrin2 yang sebenarnya tak sekedar teori

ada korelasi nyata antara dogma dan fakta

itulah tugas kita

menemukannya!

karena ia memang ada..



jalani.

nikmati.



dan lihat semua dari segala sisi!



jika pun tak mampu,

pandanglah sisi yang mampu mengukir senyummu.

pandanglah suatu tempat yang membuatmu mampu bertahmid pada penguasa jiwamu.....

0 comments

Sosialisasi Basa Basi

Terinspirasi dari sebuah cuplikan sosial yang saya temui baru2 ini. Sebenarnya hal yg satu ini sudah biasa di kehidupan sehari- hari, terutama tak lepas dari sifat kemasyarakatan yg tentunya dimiliki oleh tiap individu. Ya, manusia sebagai makhluk sosial yang sudah pasti memiliki berbagai keunikan dari sisi- sisi bersosialisasinya.

Proses ini disebut basa- basi. Saya tak akan membahasnya secara formal [misalnya dari segi etimologi ataupun berdasarkan teori- teori sosial yang banyak dikemukakan para sarjana]. Yang akan saya ceritakan di sini mengenai sisi lain dari basa- basi.

Keunikan dari basa- basi adalah betapa 'basa- basi' nya masyarakat kita. Basa- basinya itu hampir ditempatkan nyaris di segala sisi bermasyarakat. Yang saya temui baru- baru ini adalah basa- basi yg digunakan dalam menagih hutang. Ketika itu si penagih masih sempat tertawa kecil dan "berbasa- basi" pada orang yg ditagihnya. Ia menanyakan apakah kalau uang itu ia ambil, si ibu masih bisa belanja [kebetulan waktu itu kejadian ini berlangsung di tengah jalan dekat pasar]. Si ibu tertawa kecil juga dan menjawab bahwa uang belanjanya masih ada. Lalu si penagih mengambil uang yang diberi ibu itu seraya menambahkan ; "iya, soalnya saya mau beli peralatan lampu. Tapi kalau uangnya masih diperlukan, ndak apa- apalah".

Adegan yg lumrah, bukan? Namun setelah saya kupas sedikit, ternyata basa- basi itu acap digunakan untuk membumbui maksud tertentu agar lebih halus dan santun penyampaiannya.
Salah? Tentu tidak. Ini budaya, kawan. Ya, budaya basa- basi.

0 comments

Seberkas Bara


 Angin tetap menyayat rasa, mengilukan tulang yang bergemeretak  diketuk rapuh, memberitakan selembar kemengenasan yang telah terperistiwa. Tak ada yang melihatku terpaku di sini –setidaknya tak ada yang peduli. Mereka tetap pada hingar pesta kemenangan atas kematian- kematian. Botol- botol, tawa, umpatan beserta segenap hal yang bagiku pun menjijikkan, menyesaki bangunan hampir gedung itu. Tak ada yang melihatku, tak senyawa juga yang peduli padaku.
Kembali kukoyak udara malam dengan jejak- jejakku. Aroma amis darah masih seperti biasa. Terkadang diselingi rintih bagi yang masih bernyawa, yang masih sanggup untuk merintih. Segalanya serba masih karena jiwa- jiwa laknat itu perlahan menghabisi nyawa- nyawa tanpa dosa.

”Allaaaahhhhh....!!!”
”Hahaha...”.
Allahu Akbar, apa lagi itu? Cepat kuayunkan tungkai mendekati sumber jeritan. Tiga ratus meter dari posisiku tadi, seorang ummu dan dua bocahnya tergelepar di tanah. Darah lagi. Dan itu, ah, betapa aku jijik melihat ia dan gerombolannya. Tentara- tentara jahanam itu! Mereka tetap terbahak meski manusia di hadapan mereka meregang menahan sakit sembari terus mendesis- desiskan asma Robbnya. Dua bocah itu malah tak lagi bergerak kini. Innalillahi...
”Seharusnya kau tak menolak kehadiran kami. Kau dan bocah- bocah itu tahu konsekuensinya. Dan harusnya Hamas pun mengerti. Tak ada yang berhak hidup selama mengagangi langkah kami. Hahaha...”, pria berseragam itu mengoceh tak karuan, seolah mengomandoi pasukan di belakangnya untuk terus melanjutkan tawa.
Cih! Pengecut! Kalian tak sadar bahwa ini bukti nyata kepengecutan jiwa laknat kalian. Apa dayanya seorang ummu muda beserta dua bocah yang kutaksir tak genap lima tahun itu, dan pecundang- pecundang ini mesti ’menyelesaikan’ mereka dengan pasukan yang hitungannya melebihi nominal jari- jariku. Haha... Mestinya aku yang tertawa melihat ini. Benar- benar menggelikan. Lalu nanti dusta apa lagi yang akan mereka umbar di media- media dunia mengenai darah Gaza? Andai tubuhku mampu membesar, aku ingin mencabik jantung yang memompa darah para pendosa itu. Kulumatkan semua di sela kuku- kukuku.
”Kita akan meninggalkannya begitu saja, Dean?”, tanya salah satu di antara mereka. Yang dipanggil ’Dean’ –oh, nama itu, aku tak merasa asing padanya. Aku merasa benar tahu dengannya. Masya Allah.....dia!
”Meninggalkannya begitu saja? Kau pikir aku gila? Ini satu lagi kesempatan membuat bodoh pria- pria gila Hamas itu! Tinggalkan jejak seolah ini perbuatan mereka, mereka yang bertanggung jawab dalam pesta kita kali ini”, Dean  menyeringai sinis.
Aku tak bisa diam lagi. Sekecil apapun, aku mesti lakukan sesuatu. Tak akan kubiarkan tangan jahanam itu menyentuh sang perempuan suci yang......subhanallah, ia masih hidup. Aku bisa merasakannya, aroma nafasnya masih ada. Perlahan kudekati ia, kurasakan mata Dean menatapku lekat karena baru sadar keberadaanku. Aku tetap mendekat, mengacuhkannya. Beberapa orang siap mencanangkan pistol mereka. Dean tetap menatapku, aku tetap maju.
”Ambil saja untukmu”, lirihnya lembut. Aku tak peduli, kau izinkan atau tidak pun aku tetap akan ’mengambil’nya dari kau dan pasukanmu.
Dean melangkah menjauh, mengodekan kepada rombongan untuk mengikuti langkahnya. Kubiarkan ia menjauh, pikiranku kembali mengingat beberapa hal lalu yang mungkin akan bermanfaat suatu saat. Tapi itu dapat dilakukan nanti, masih ada waktu, insya Allah.
Aku kembali mendekat pada ummu yang terkapar. Bau darah dari tubuhnya begitu jelas, namun tak terlihat karena abaya hitam yang ia kenakan. Ah, andai saja boleh dan bisa, ingin kuulurkan tangan ini memapahnya menuju suatu tempat aman, markas Hamas misalnya. Namun kumengerti, selain memang aku tak mampu, aku pun tak boleh.
Ia menatapku. Seperti takut atau jijik. Entahlah. Aku maklumi karena keadaanku memang begitu kini. Menakutkan, menjijikkan. Termuara puji bagi Allah karena masih Memberi rasa iba pada mereka untuk membiarkan aku tetap hidup. Kembali ke si ummu, ia terus menatapku. Dari bibirnya yang bergetar kudengar dengungan bagai dengung lebah, namun sungguh menenangkan. Aku menyimak dengungannya, subhanallah... Kalimat itu.... Andai aku tahu bagaimana caranya menunjukkan senyumku, aku akan lakukan. Aku akan tersenyum padanya atas apa yang ia ucapkan. Namun perlahan dengungan itu kian samar dan...... hilang. Inalillahi.... Satu lagi.
Aku berbalik menjauh, melangkah gontai. Ingatan- ingatanku berkelebat satu- satu. Penjara Ramallah....salah satu saksi kebiadaban tentara- tentara itu. Aku melihatnya sendiri. Ketika kuku- kuku para mujahidin itu dicabuti hingga habis, tak cukup sekedar itu, sumber- sumber darah mereka disirami cairan kimia panas.... Ketika mereka dipanggang dalam ’kotak neraka’ di tengah lapangan gersang.... Ketika para tentara itu dengan keji menjadikan mujahid- mujahid itu sebagai pelampiasan nafsu kotor mereka.... Bahkan ketika penegak agama Allah itu dimasukkan ke ruangan berisi anjing lapar.... Masya Allah.... untuk bagian itu Dean dan akulah yang bertugas.... Dean. Dean. Dean. Terlalu banyak kenanganku bersamanya sebelum ia mendapat penggantiku. Tua, tak layak lagi, itu alasan mereka. Aku tak berontak meski sebenarnya aku bisa. Kususuri jejalan Palestina setelahnya, mencari makan dari onggokan sampah atau benar- benar mencari sendiri, bersaing dengan yang lain. Tak ada penduduk yang kasihan melihatku. Aku tahu, mereka tahu aku masih gagah, masih sanggup untuk sekedar mencari apa yang dapat mengenyangkan perut. Ini kujalani berbulan- bulan lamanya. Selama berbulan- bulan pula aku masih menjadi saksi kebiadaban tentara- tentara laknat itu. Aku pernah melihat seorang ummu disiksa habis- habisan karena tak memberi tahu keberadaan suaminya yang ternyata mujahid Hamas. Setelah puas menendangi, para tentara itu mengoyak habis perut si ummu yang tengah hamil besar. Masya Allah... Aku pun pernah melihat seorang tua yang tangannya diikat di sebuah tank lalu diseret ke tengah lapangan gersang setelah sebelumnya melalui aspal- aspal panas dan berlubang Gaza. Aku telah melihat semua! Seandainya PBB memerlukan saksi untuk ini, aku siap. Demi Allah aku siap.
Aku terus sendiri. Dan saat aku merasa ingin dipedulikan, atau setidaknya dianggap ada oleh yang lainnya, Allah bimbing langkahku pada suatu rumah. Aku tak berani masuk kala itu, aku tahu itu bukan caranya. Kutunggu seseorang keluar dari pintu. Hingga seorang pemuda yang kukira masih berumur 19 tahun keluar dengan membawa ketapel dan –sepertinya batu- batu di kantong celananya. Ia menatapku. Sepeti takut atau jijik. Yeah, kumaklumi. Saat itu aku benar- benar telah menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan. Bukan aku yang tegap seperti beberapa bulan lalu. Tubuhku kini ringkih, bias- bias rusuk di dadaku kian jelas tampak. Dan, uh, penuh kudis.
Pemuda itu masuk lagi ke dalam rumahnya. Kutunggui (entah kenapa aku yakin ia akan memberiku sekerat roti). Keyakinanku benar, ia datang kembali dengan sepotong roti di tangannya. Diletakkannya di tanah di hadapanku. Haha, aku tahu ia tak akan menjulurkannya padaku. Kuraih, ia jongkok, menungguiku menghabiskan makan.
”Maaf, aku tak bisa mengizinkanmu tinggal berlama- lama di sini”, ucapnya saat itu. Ya, ya, aku juga tahu itu. Dia tak akan memintaku tinggal, ia akan segera menyuruhku pergi. Maka selesai makan aku pergi, dan ia melanjutkan langkahnya.
Itulah, hanya sebatas itu aku mengetahuinya. Pemuda Ketapel aku menamainya. Aku ingat persis garis- garis keras dan rahang kukuh di wajahnya itu. Entah sudah berapa waktu. Mungkin setengah tahun. Entahlah, aku jarang menghitung masa.
Kujejaki lagi jalan- jalan Gaza dengan langkahku. Bau amis darah tetap ada. Di mana- mana. Tangis dan rintih pun masih terdengar. Dan......tembakan! Ada suara letusan pistol di sana. Cepat aku berlari. Tak jauh memang, tapi sangat membuat nafasku tersengal –ah, inilah dampak ketuaanku. Di depanku sudah ada tiga laki- laki berkafiyeh yang berdiri melingkari sesuatu. Aku ingin tahu apa yang mereka amati. Allahu Akbar! Itu si Pemuda Ketapel. Kepalanya telah berlubang sebesar peluru. Darah. Darah segar mengalir deras dari sana. Allah...  Dan orang- orang berjubah ini...... Ah, tidak. Ada pistol tergenggam di salah satu tangan mereka. Di...... orang itu. Dia!
Aku benar- benar tak dapat diam lagi. Kupersiapkan diri untuk melompat. Sungguh aku ingin melumatkan ia dengan kuku- kukuku.
”Hei, kau lagi. Kau juga menginginkannya? Maaf, teman, aku berjanji pada Letnan untuk membawa mayatnya”, ujar Dean sumringah padaku.
Cih! Aku tak peduli! Kau dan gerombolanmu itu telah banyak menenggak darah Gaza, duka Palestina. Kau dan gerombolanmu itu sudah menginjak- injak tanah suci ini dengan dosa- dosa dan kedurhakaan kalian!
Aku tak akan diam!
Kupersiapkan diri untuk melompat. Aku yakin aku masih mampu.
Bismillah.
Hup!
Tepat wajahnya.
Segera aku beraksi. Ingin segera aku lumatkan ia dengan kuku- kukuku.
Ia meronta.
”Hei, cepat bunuh anjing gila ini....!!!”.
Hahahaha... bagus. Aku berhasil. Naluri kebinatanganku menunjukkan reaksi setelah beralam- lama tak aku gunakan. Wajahnya telah tercarut oleh cakaran- cakaranku.
DOR!!!
Ufh, sial, gerakan mereka cepat juga. Tapi aku tak peduli. Kucari nadinya, taringku masih lumayan kuat jika hanya untuk membocorkan urat vital itu.
DORR!!
Tembakan kedua. Aku juga tak peduli. Biarlah. Biarlah darah yang keluar dari perutku ini membasahi tubuhnya. Tubuh komandan mereka. Karena ia sama najisnya dengan aku. Hahahaha....
Ketemu.
Bismillah.
Ternyata rahangku tak berubah kemampuan. Alhamdulillah...
Darah segar terpancar dari leher Dean, bercampur dengan darahku. Rontaannya melemah. Aku pun begitu, melemah. Tapi aku bangga. Entahlah. Aku memang makhluk najis, namun aku percaya Allah tak sia- sia menciptakanku.
Gelap.

”Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”






pada sebuah noktah,
30 November 2010

 
;