Kamis, 02 Agustus 2012

Seberkas Bara


 Angin tetap menyayat rasa, mengilukan tulang yang bergemeretak  diketuk rapuh, memberitakan selembar kemengenasan yang telah terperistiwa. Tak ada yang melihatku terpaku di sini –setidaknya tak ada yang peduli. Mereka tetap pada hingar pesta kemenangan atas kematian- kematian. Botol- botol, tawa, umpatan beserta segenap hal yang bagiku pun menjijikkan, menyesaki bangunan hampir gedung itu. Tak ada yang melihatku, tak senyawa juga yang peduli padaku.
Kembali kukoyak udara malam dengan jejak- jejakku. Aroma amis darah masih seperti biasa. Terkadang diselingi rintih bagi yang masih bernyawa, yang masih sanggup untuk merintih. Segalanya serba masih karena jiwa- jiwa laknat itu perlahan menghabisi nyawa- nyawa tanpa dosa.

”Allaaaahhhhh....!!!”
”Hahaha...”.
Allahu Akbar, apa lagi itu? Cepat kuayunkan tungkai mendekati sumber jeritan. Tiga ratus meter dari posisiku tadi, seorang ummu dan dua bocahnya tergelepar di tanah. Darah lagi. Dan itu, ah, betapa aku jijik melihat ia dan gerombolannya. Tentara- tentara jahanam itu! Mereka tetap terbahak meski manusia di hadapan mereka meregang menahan sakit sembari terus mendesis- desiskan asma Robbnya. Dua bocah itu malah tak lagi bergerak kini. Innalillahi...
”Seharusnya kau tak menolak kehadiran kami. Kau dan bocah- bocah itu tahu konsekuensinya. Dan harusnya Hamas pun mengerti. Tak ada yang berhak hidup selama mengagangi langkah kami. Hahaha...”, pria berseragam itu mengoceh tak karuan, seolah mengomandoi pasukan di belakangnya untuk terus melanjutkan tawa.
Cih! Pengecut! Kalian tak sadar bahwa ini bukti nyata kepengecutan jiwa laknat kalian. Apa dayanya seorang ummu muda beserta dua bocah yang kutaksir tak genap lima tahun itu, dan pecundang- pecundang ini mesti ’menyelesaikan’ mereka dengan pasukan yang hitungannya melebihi nominal jari- jariku. Haha... Mestinya aku yang tertawa melihat ini. Benar- benar menggelikan. Lalu nanti dusta apa lagi yang akan mereka umbar di media- media dunia mengenai darah Gaza? Andai tubuhku mampu membesar, aku ingin mencabik jantung yang memompa darah para pendosa itu. Kulumatkan semua di sela kuku- kukuku.
”Kita akan meninggalkannya begitu saja, Dean?”, tanya salah satu di antara mereka. Yang dipanggil ’Dean’ –oh, nama itu, aku tak merasa asing padanya. Aku merasa benar tahu dengannya. Masya Allah.....dia!
”Meninggalkannya begitu saja? Kau pikir aku gila? Ini satu lagi kesempatan membuat bodoh pria- pria gila Hamas itu! Tinggalkan jejak seolah ini perbuatan mereka, mereka yang bertanggung jawab dalam pesta kita kali ini”, Dean  menyeringai sinis.
Aku tak bisa diam lagi. Sekecil apapun, aku mesti lakukan sesuatu. Tak akan kubiarkan tangan jahanam itu menyentuh sang perempuan suci yang......subhanallah, ia masih hidup. Aku bisa merasakannya, aroma nafasnya masih ada. Perlahan kudekati ia, kurasakan mata Dean menatapku lekat karena baru sadar keberadaanku. Aku tetap mendekat, mengacuhkannya. Beberapa orang siap mencanangkan pistol mereka. Dean tetap menatapku, aku tetap maju.
”Ambil saja untukmu”, lirihnya lembut. Aku tak peduli, kau izinkan atau tidak pun aku tetap akan ’mengambil’nya dari kau dan pasukanmu.
Dean melangkah menjauh, mengodekan kepada rombongan untuk mengikuti langkahnya. Kubiarkan ia menjauh, pikiranku kembali mengingat beberapa hal lalu yang mungkin akan bermanfaat suatu saat. Tapi itu dapat dilakukan nanti, masih ada waktu, insya Allah.
Aku kembali mendekat pada ummu yang terkapar. Bau darah dari tubuhnya begitu jelas, namun tak terlihat karena abaya hitam yang ia kenakan. Ah, andai saja boleh dan bisa, ingin kuulurkan tangan ini memapahnya menuju suatu tempat aman, markas Hamas misalnya. Namun kumengerti, selain memang aku tak mampu, aku pun tak boleh.
Ia menatapku. Seperti takut atau jijik. Entahlah. Aku maklumi karena keadaanku memang begitu kini. Menakutkan, menjijikkan. Termuara puji bagi Allah karena masih Memberi rasa iba pada mereka untuk membiarkan aku tetap hidup. Kembali ke si ummu, ia terus menatapku. Dari bibirnya yang bergetar kudengar dengungan bagai dengung lebah, namun sungguh menenangkan. Aku menyimak dengungannya, subhanallah... Kalimat itu.... Andai aku tahu bagaimana caranya menunjukkan senyumku, aku akan lakukan. Aku akan tersenyum padanya atas apa yang ia ucapkan. Namun perlahan dengungan itu kian samar dan...... hilang. Inalillahi.... Satu lagi.
Aku berbalik menjauh, melangkah gontai. Ingatan- ingatanku berkelebat satu- satu. Penjara Ramallah....salah satu saksi kebiadaban tentara- tentara itu. Aku melihatnya sendiri. Ketika kuku- kuku para mujahidin itu dicabuti hingga habis, tak cukup sekedar itu, sumber- sumber darah mereka disirami cairan kimia panas.... Ketika mereka dipanggang dalam ’kotak neraka’ di tengah lapangan gersang.... Ketika para tentara itu dengan keji menjadikan mujahid- mujahid itu sebagai pelampiasan nafsu kotor mereka.... Bahkan ketika penegak agama Allah itu dimasukkan ke ruangan berisi anjing lapar.... Masya Allah.... untuk bagian itu Dean dan akulah yang bertugas.... Dean. Dean. Dean. Terlalu banyak kenanganku bersamanya sebelum ia mendapat penggantiku. Tua, tak layak lagi, itu alasan mereka. Aku tak berontak meski sebenarnya aku bisa. Kususuri jejalan Palestina setelahnya, mencari makan dari onggokan sampah atau benar- benar mencari sendiri, bersaing dengan yang lain. Tak ada penduduk yang kasihan melihatku. Aku tahu, mereka tahu aku masih gagah, masih sanggup untuk sekedar mencari apa yang dapat mengenyangkan perut. Ini kujalani berbulan- bulan lamanya. Selama berbulan- bulan pula aku masih menjadi saksi kebiadaban tentara- tentara laknat itu. Aku pernah melihat seorang ummu disiksa habis- habisan karena tak memberi tahu keberadaan suaminya yang ternyata mujahid Hamas. Setelah puas menendangi, para tentara itu mengoyak habis perut si ummu yang tengah hamil besar. Masya Allah... Aku pun pernah melihat seorang tua yang tangannya diikat di sebuah tank lalu diseret ke tengah lapangan gersang setelah sebelumnya melalui aspal- aspal panas dan berlubang Gaza. Aku telah melihat semua! Seandainya PBB memerlukan saksi untuk ini, aku siap. Demi Allah aku siap.
Aku terus sendiri. Dan saat aku merasa ingin dipedulikan, atau setidaknya dianggap ada oleh yang lainnya, Allah bimbing langkahku pada suatu rumah. Aku tak berani masuk kala itu, aku tahu itu bukan caranya. Kutunggu seseorang keluar dari pintu. Hingga seorang pemuda yang kukira masih berumur 19 tahun keluar dengan membawa ketapel dan –sepertinya batu- batu di kantong celananya. Ia menatapku. Sepeti takut atau jijik. Yeah, kumaklumi. Saat itu aku benar- benar telah menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan. Bukan aku yang tegap seperti beberapa bulan lalu. Tubuhku kini ringkih, bias- bias rusuk di dadaku kian jelas tampak. Dan, uh, penuh kudis.
Pemuda itu masuk lagi ke dalam rumahnya. Kutunggui (entah kenapa aku yakin ia akan memberiku sekerat roti). Keyakinanku benar, ia datang kembali dengan sepotong roti di tangannya. Diletakkannya di tanah di hadapanku. Haha, aku tahu ia tak akan menjulurkannya padaku. Kuraih, ia jongkok, menungguiku menghabiskan makan.
”Maaf, aku tak bisa mengizinkanmu tinggal berlama- lama di sini”, ucapnya saat itu. Ya, ya, aku juga tahu itu. Dia tak akan memintaku tinggal, ia akan segera menyuruhku pergi. Maka selesai makan aku pergi, dan ia melanjutkan langkahnya.
Itulah, hanya sebatas itu aku mengetahuinya. Pemuda Ketapel aku menamainya. Aku ingat persis garis- garis keras dan rahang kukuh di wajahnya itu. Entah sudah berapa waktu. Mungkin setengah tahun. Entahlah, aku jarang menghitung masa.
Kujejaki lagi jalan- jalan Gaza dengan langkahku. Bau amis darah tetap ada. Di mana- mana. Tangis dan rintih pun masih terdengar. Dan......tembakan! Ada suara letusan pistol di sana. Cepat aku berlari. Tak jauh memang, tapi sangat membuat nafasku tersengal –ah, inilah dampak ketuaanku. Di depanku sudah ada tiga laki- laki berkafiyeh yang berdiri melingkari sesuatu. Aku ingin tahu apa yang mereka amati. Allahu Akbar! Itu si Pemuda Ketapel. Kepalanya telah berlubang sebesar peluru. Darah. Darah segar mengalir deras dari sana. Allah...  Dan orang- orang berjubah ini...... Ah, tidak. Ada pistol tergenggam di salah satu tangan mereka. Di...... orang itu. Dia!
Aku benar- benar tak dapat diam lagi. Kupersiapkan diri untuk melompat. Sungguh aku ingin melumatkan ia dengan kuku- kukuku.
”Hei, kau lagi. Kau juga menginginkannya? Maaf, teman, aku berjanji pada Letnan untuk membawa mayatnya”, ujar Dean sumringah padaku.
Cih! Aku tak peduli! Kau dan gerombolanmu itu telah banyak menenggak darah Gaza, duka Palestina. Kau dan gerombolanmu itu sudah menginjak- injak tanah suci ini dengan dosa- dosa dan kedurhakaan kalian!
Aku tak akan diam!
Kupersiapkan diri untuk melompat. Aku yakin aku masih mampu.
Bismillah.
Hup!
Tepat wajahnya.
Segera aku beraksi. Ingin segera aku lumatkan ia dengan kuku- kukuku.
Ia meronta.
”Hei, cepat bunuh anjing gila ini....!!!”.
Hahahaha... bagus. Aku berhasil. Naluri kebinatanganku menunjukkan reaksi setelah beralam- lama tak aku gunakan. Wajahnya telah tercarut oleh cakaran- cakaranku.
DOR!!!
Ufh, sial, gerakan mereka cepat juga. Tapi aku tak peduli. Kucari nadinya, taringku masih lumayan kuat jika hanya untuk membocorkan urat vital itu.
DORR!!
Tembakan kedua. Aku juga tak peduli. Biarlah. Biarlah darah yang keluar dari perutku ini membasahi tubuhnya. Tubuh komandan mereka. Karena ia sama najisnya dengan aku. Hahahaha....
Ketemu.
Bismillah.
Ternyata rahangku tak berubah kemampuan. Alhamdulillah...
Darah segar terpancar dari leher Dean, bercampur dengan darahku. Rontaannya melemah. Aku pun begitu, melemah. Tapi aku bangga. Entahlah. Aku memang makhluk najis, namun aku percaya Allah tak sia- sia menciptakanku.
Gelap.

”Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”






pada sebuah noktah,
30 November 2010

0 comments:

Posting Komentar

 
;