Angin tetap menyayat rasa, mengilukan tulang yang
bergemeretak diketuk rapuh, memberitakan
selembar kemengenasan yang telah terperistiwa. Tak ada yang melihatku terpaku
di sini –setidaknya tak ada yang peduli. Mereka tetap pada hingar pesta kemenangan atas kematian- kematian. Botol-
botol, tawa, umpatan beserta segenap hal yang bagiku pun menjijikkan, menyesaki
bangunan hampir gedung itu. Tak ada yang melihatku, tak senyawa juga yang
peduli padaku.
Kembali kukoyak udara malam
dengan jejak- jejakku. Aroma amis darah masih seperti biasa. Terkadang
diselingi rintih bagi yang masih bernyawa, yang masih sanggup untuk merintih.
Segalanya serba masih karena jiwa- jiwa laknat itu perlahan menghabisi nyawa-
nyawa tanpa dosa.
”Allaaaahhhhh....!!!”
”Hahaha...”.
Allahu Akbar, apa
lagi itu? Cepat kuayunkan tungkai mendekati sumber jeritan. Tiga ratus meter dari
posisiku tadi, seorang ummu dan dua
bocahnya tergelepar di tanah. Darah lagi. Dan itu, ah, betapa aku jijik melihat
ia dan gerombolannya. Tentara- tentara jahanam itu! Mereka tetap terbahak meski
manusia di hadapan mereka meregang menahan sakit sembari terus mendesis-
desiskan asma Robbnya. Dua bocah itu malah tak lagi bergerak kini. Innalillahi...
”Seharusnya kau tak menolak kehadiran
kami. Kau dan bocah- bocah itu tahu konsekuensinya. Dan harusnya Hamas pun
mengerti. Tak ada yang berhak hidup selama mengagangi langkah kami. Hahaha...”,
pria berseragam itu mengoceh tak karuan, seolah mengomandoi pasukan di
belakangnya untuk terus melanjutkan tawa.
Cih! Pengecut! Kalian tak
sadar bahwa ini bukti nyata kepengecutan jiwa laknat kalian. Apa dayanya
seorang ummu muda beserta dua bocah
yang kutaksir tak genap lima tahun itu, dan pecundang- pecundang ini mesti
’menyelesaikan’ mereka dengan pasukan yang hitungannya melebihi nominal jari-
jariku. Haha... Mestinya aku yang tertawa melihat ini. Benar- benar
menggelikan. Lalu nanti dusta apa lagi yang akan mereka umbar di media- media
dunia mengenai darah Gaza? Andai tubuhku mampu membesar, aku ingin mencabik
jantung yang memompa darah para pendosa itu. Kulumatkan semua di sela kuku- kukuku.
”Kita akan meninggalkannya
begitu saja, Dean?”, tanya salah satu di antara mereka. Yang dipanggil ’Dean’ –oh, nama itu, aku tak
merasa asing padanya. Aku merasa benar tahu dengannya. Masya Allah.....dia!
”Meninggalkannya begitu saja? Kau
pikir aku gila? Ini satu lagi kesempatan membuat bodoh pria- pria gila Hamas
itu! Tinggalkan jejak seolah ini perbuatan mereka, mereka yang bertanggung
jawab dalam pesta kita kali ini”, Dean
menyeringai sinis.
Aku tak bisa diam lagi. Sekecil apapun, aku mesti lakukan sesuatu.
Tak akan kubiarkan tangan jahanam itu menyentuh sang perempuan suci yang......subhanallah, ia masih hidup. Aku bisa
merasakannya, aroma nafasnya masih ada. Perlahan kudekati ia, kurasakan mata
Dean menatapku lekat karena baru sadar keberadaanku. Aku tetap mendekat,
mengacuhkannya. Beberapa orang siap mencanangkan pistol mereka. Dean tetap
menatapku, aku tetap maju.
”Ambil saja untukmu”, lirihnya
lembut. Aku tak peduli, kau izinkan atau tidak pun aku tetap akan
’mengambil’nya dari kau dan pasukanmu.
Dean melangkah menjauh, mengodekan
kepada rombongan untuk mengikuti langkahnya. Kubiarkan ia menjauh, pikiranku
kembali mengingat beberapa hal lalu yang mungkin akan bermanfaat suatu saat.
Tapi itu dapat dilakukan nanti, masih ada waktu, insya Allah.
Aku kembali mendekat pada ummu yang terkapar. Bau darah dari
tubuhnya begitu jelas, namun tak terlihat karena abaya hitam yang ia kenakan. Ah, andai saja boleh dan bisa, ingin kuulurkan tangan ini memapahnya menuju
suatu tempat aman, markas Hamas misalnya. Namun kumengerti, selain memang aku
tak mampu, aku pun tak boleh.
Ia menatapku. Seperti takut
atau jijik. Entahlah. Aku maklumi karena keadaanku memang begitu kini.
Menakutkan, menjijikkan. Termuara puji bagi Allah karena masih Memberi rasa iba
pada mereka untuk membiarkan aku tetap hidup. Kembali ke si ummu, ia terus menatapku. Dari bibirnya yang bergetar kudengar
dengungan bagai dengung lebah, namun sungguh menenangkan. Aku menyimak
dengungannya, subhanallah... Kalimat
itu.... Andai aku tahu bagaimana caranya menunjukkan senyumku, aku akan
lakukan. Aku akan tersenyum padanya atas apa yang ia ucapkan. Namun perlahan
dengungan itu kian samar dan...... hilang. Inalillahi....
Satu lagi.
Aku berbalik menjauh,
melangkah gontai. Ingatan- ingatanku berkelebat satu- satu. Penjara Ramallah....salah satu saksi
kebiadaban tentara- tentara itu. Aku melihatnya sendiri. Ketika kuku- kuku para
mujahidin itu dicabuti hingga habis, tak cukup sekedar itu, sumber- sumber
darah mereka disirami cairan kimia panas.... Ketika mereka dipanggang dalam ’kotak neraka’ di
tengah lapangan gersang.... Ketika para tentara itu dengan keji menjadikan
mujahid- mujahid itu sebagai pelampiasan nafsu kotor mereka.... Bahkan ketika
penegak agama Allah itu dimasukkan ke ruangan berisi anjing lapar.... Masya Allah.... untuk bagian itu Dean
dan akulah yang bertugas.... Dean. Dean. Dean. Terlalu banyak kenanganku
bersamanya sebelum ia mendapat penggantiku. Tua, tak layak lagi, itu alasan
mereka. Aku tak berontak meski sebenarnya aku bisa. Kususuri jejalan Palestina
setelahnya, mencari makan dari onggokan sampah atau benar- benar mencari
sendiri, bersaing dengan yang lain. Tak ada penduduk yang kasihan melihatku.
Aku tahu, mereka tahu aku masih gagah, masih sanggup untuk sekedar mencari apa
yang dapat mengenyangkan perut. Ini kujalani berbulan- bulan lamanya. Selama berbulan- bulan pula aku masih menjadi
saksi kebiadaban tentara- tentara laknat itu. Aku pernah melihat seorang ummu disiksa habis- habisan karena tak
memberi tahu keberadaan suaminya yang ternyata mujahid Hamas. Setelah puas
menendangi, para tentara itu mengoyak habis perut si ummu yang tengah hamil besar. Masya
Allah... Aku pun pernah melihat seorang tua yang tangannya diikat di sebuah
tank lalu diseret ke tengah lapangan gersang setelah sebelumnya melalui aspal-
aspal panas dan berlubang Gaza. Aku telah melihat semua! Seandainya PBB
memerlukan saksi untuk ini, aku siap. Demi Allah aku siap.
Aku terus sendiri. Dan saat
aku merasa ingin dipedulikan, atau setidaknya dianggap ada oleh yang lainnya,
Allah bimbing langkahku pada suatu rumah. Aku tak berani masuk kala itu, aku tahu itu bukan
caranya. Kutunggu seseorang keluar dari pintu. Hingga seorang pemuda yang
kukira masih berumur 19 tahun keluar dengan membawa ketapel dan –sepertinya
batu- batu di kantong celananya. Ia menatapku. Sepeti takut atau jijik. Yeah, kumaklumi. Saat itu aku benar-
benar telah menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan. Bukan aku yang tegap seperti beberapa
bulan lalu. Tubuhku kini
ringkih, bias- bias rusuk di dadaku kian jelas tampak. Dan, uh, penuh kudis.
Pemuda itu masuk lagi ke dalam
rumahnya. Kutunggui (entah kenapa aku yakin ia akan memberiku sekerat roti). Keyakinanku benar, ia datang kembali
dengan sepotong roti di tangannya. Diletakkannya di tanah di hadapanku. Haha, aku tahu ia tak akan
menjulurkannya padaku. Kuraih, ia jongkok, menungguiku menghabiskan makan.
”Maaf, aku tak bisa
mengizinkanmu tinggal berlama- lama di sini”, ucapnya saat itu. Ya, ya, aku juga
tahu itu. Dia tak akan memintaku tinggal, ia akan segera menyuruhku pergi. Maka
selesai makan aku pergi, dan ia melanjutkan langkahnya.
Itulah, hanya sebatas itu aku
mengetahuinya. Pemuda Ketapel aku menamainya. Aku ingat persis garis- garis
keras dan rahang kukuh di
wajahnya itu. Entah sudah berapa waktu. Mungkin setengah tahun. Entahlah, aku
jarang menghitung masa.
Kujejaki lagi jalan- jalan
Gaza dengan langkahku. Bau amis darah tetap ada. Di mana- mana. Tangis dan
rintih pun masih terdengar. Dan......tembakan! Ada suara letusan pistol di
sana. Cepat aku berlari. Tak jauh memang, tapi sangat membuat nafasku tersengal
–ah, inilah dampak ketuaanku. Di depanku sudah ada tiga laki- laki berkafiyeh
yang berdiri melingkari sesuatu. Aku ingin tahu apa yang mereka amati. Allahu Akbar! Itu si Pemuda Ketapel.
Kepalanya telah berlubang sebesar peluru. Darah. Darah segar mengalir deras
dari sana. Allah... Dan orang- orang berjubah ini...... Ah,
tidak. Ada pistol tergenggam di salah satu tangan mereka. Di...... orang itu.
Dia!
Aku benar- benar tak dapat
diam lagi. Kupersiapkan diri untuk melompat. Sungguh aku ingin melumatkan ia
dengan kuku- kukuku.
”Hei, kau lagi. Kau juga
menginginkannya? Maaf, teman, aku berjanji pada Letnan untuk membawa mayatnya”,
ujar Dean sumringah padaku.
Cih! Aku tak peduli! Kau dan
gerombolanmu itu telah banyak menenggak darah Gaza, duka Palestina. Kau dan
gerombolanmu itu sudah menginjak- injak tanah suci ini dengan dosa- dosa dan
kedurhakaan kalian!
Aku tak akan diam!
Kupersiapkan diri untuk
melompat. Aku yakin aku masih
mampu.
Bismillah.
Hup!
Tepat wajahnya.
Segera aku beraksi. Ingin segera aku lumatkan ia dengan kuku-
kukuku.
Ia meronta.
”Hei, cepat bunuh anjing gila
ini....!!!”.
Hahahaha... bagus. Aku
berhasil. Naluri
kebinatanganku menunjukkan reaksi setelah beralam- lama tak aku gunakan. Wajahnya telah tercarut oleh cakaran-
cakaranku.
DOR!!!
Ufh, sial, gerakan mereka
cepat juga. Tapi aku tak peduli. Kucari nadinya, taringku masih lumayan kuat
jika hanya untuk membocorkan urat vital itu.
DORR!!
Tembakan kedua. Aku juga tak
peduli. Biarlah. Biarlah darah yang keluar dari perutku ini membasahi tubuhnya.
Tubuh komandan mereka. Karena ia sama najisnya dengan aku. Hahahaha....
Ketemu.
Bismillah.
Ternyata rahangku tak berubah
kemampuan. Alhamdulillah...
Darah segar terpancar dari
leher Dean, bercampur dengan darahku. Rontaannya melemah. Aku pun begitu, melemah. Tapi aku bangga. Entahlah. Aku
memang makhluk najis, namun aku percaya Allah tak sia- sia menciptakanku.
Gelap.
”Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami
gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk
tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”
pada
sebuah noktah,
30 November 2010


0 comments:
Posting Komentar