Terinspirasi dari sebuah cuplikan sosial yang saya temui baru2 ini. Sebenarnya hal yg satu ini sudah biasa di kehidupan sehari- hari, terutama tak lepas dari sifat kemasyarakatan yg tentunya dimiliki oleh tiap individu. Ya, manusia sebagai makhluk sosial yang sudah pasti memiliki berbagai keunikan dari sisi- sisi bersosialisasinya.
Proses ini disebut basa- basi. Saya tak akan membahasnya secara formal [misalnya dari segi etimologi ataupun berdasarkan teori- teori sosial yang banyak dikemukakan para sarjana]. Yang akan saya ceritakan di sini mengenai sisi lain dari basa- basi.
Keunikan dari basa- basi adalah betapa 'basa- basi' nya masyarakat kita. Basa- basinya itu hampir ditempatkan nyaris di segala sisi bermasyarakat. Yang saya temui baru- baru ini adalah basa- basi yg digunakan dalam menagih hutang. Ketika itu si penagih masih sempat tertawa kecil dan "berbasa- basi" pada orang yg ditagihnya. Ia menanyakan apakah kalau uang itu ia ambil, si ibu masih bisa belanja [kebetulan waktu itu kejadian ini berlangsung di tengah jalan dekat pasar]. Si ibu tertawa kecil juga dan menjawab bahwa uang belanjanya masih ada. Lalu si penagih mengambil uang yang diberi ibu itu seraya menambahkan ; "iya, soalnya saya mau beli peralatan lampu. Tapi kalau uangnya masih diperlukan, ndak apa- apalah".
Adegan yg lumrah, bukan? Namun setelah saya kupas sedikit, ternyata basa- basi itu acap digunakan untuk membumbui maksud tertentu agar lebih halus dan santun penyampaiannya.
Salah? Tentu tidak. Ini budaya, kawan. Ya, budaya basa- basi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar