Dia Septini Waty. Dia wanita yang lahir 21 September 1964 lalu. Dia wanita yang melahirkanku di usia 29 tahun 4 bulan 21 harinya. Dia wanita kuat yang ada di tiap langkah hebat Bapakku, langkah tegap Abangku, langkahku, juga langkah kedua adikku.
Dia hidupku. Tidak separuh, bahkan rasanya seluruh. Dia wanita luar biasa yang ada di perjalananku. Dia yang selalu bijaksana menanggapi masalah. Dia yang setia mendengar tiap cerita. Dia yang selalu jadi sandaran tiap lelah. Dia, yang pangkuannya jadi tempatku berbaring saat kami ada waktu senggang.
Dia Mamakku. Ya, Mamak kami memanggilnya. Panggilan kampung? Terserah. Bagiku dia tetap peri, bidadari, malaikat, dan sebagainyalah. Dia keajaiban nyata yang Allah kasih buatku, buat kami. Dia yang wajahnya tetap punya rona meski usia tak lagi muda. Ia yang kata- katanya hangat dan menenangkan. Ia yang sikapnya ramah dan membuat tawa. Ia yang suaranya selalu kurindu. Ia yang perhatiannya membuatku merasa dimanja.
Dia Mamakku. Wanita istimewa yang akhir- akhir ini kupanggil Bunbun. Bukan karena tak suka kata "mamak". Lebih karena aku suka lihat wajah merahnya saat kupanggil begitu. Selayak warna kesukaannya. Wajah bundar itu jadi tambah cantik.
Aku cinta dia. Mamakku. Bunbunku. Dia bukan separuh hidup, melainkan segala nafas buatku.
my lovely Bunbun (foto 19 Agustus 2012)


0 comments:
Posting Komentar