Rabu, 02 Mei 2012

MENTARI 14 JULI


Mentari 14 Juli
                                                                                                                                                                                    ( Al Humairaa )

”Kau tau Han, sinar  mentari itu indah, karena ia tanda secercah asa”.
Sepenggal kalimat yang membuat wajah Hana bersemu merah dan untuk pertama kali pula ia jatuh cinta.

            14 Juli 2010
Hana masih terpekur di atas sajadah lusuhnya. Sesekali burung bangkai yang sudah beberapa minggu bertengger di atap rumah bercrit- crit ria. Membuktikan sungguh sepi subuh ini. Sementara Hana sibuk berzikir di atas sajadah lusuhnya, sajadah mahar dari sang suami.
Hana terus berzikir.

            2 Januari 2008
Aku ingin kita kembali ke Sumatera. Berkebun di sana lebih menjamin dibanding menjadi buruh di sini. Lagipula ada Mamak dan Bapak yang bisa aku bantu, atau malah mereka yang bisa membantu kita”, ujar Alan ba’da mengimami istrinya sholat maghrib. Hana diam. Memang benar apa yang Alan katakan, di Sumatera kemungkinan mereka bertahan hidup lebih besar dibanding di pencilan Madura ini. Tapi untuk ke sana juga butuh biaya yang cukup besar. Setidaknya lima juta! Dan darimana mereka punya uang sebanyak itu? Membayangkan pun Hana tak tega.
            Aku tau kau bingung, atau mungkin ragu.... tapi tolong fikirkanlah dulu. Ini demi kita dan bayi di perutmu itu, Han”, bujuk Alan.
            ”Tapi perjalanan ke sana juga membutuhkan biaya. Dari mana kita punya uang?”, Hana hendak berkeras, karena tahu kemustahilan ide suaminya itu.
            Alan diam sementara, seperti berpikir. Hana pun diam. Kembali ke Sumatera adalah keinginannya juga sejak menikah dengan Alan setahun silam. Bersuamikan Alan yang sesama perantau Sumatera telah memunculkan harapannya untuk bisa kembali bertemu kedua orang tua di beda nusa. Tapi rasionalitas dan kejujuran untuk mengakui bahwa kondisi hidup mereka saat ini sungguh jauh dari mampu untuk kembali telah mematahkan asa- asa itu.
            ”Atau biarkanlah aku dulu yang pulang ke sana, nanti kau kukirimi uang untuk menyusul”.
            Hana mendongak separuh terkejut. Ini lebih mustahil! Meninggalkan ia dan kandungan tuanya sendiri di sini, tanpa sanak saudara dan sebagainya, bahkan tak ada jaminan biaya hidup yang cukup setidaknya untuk bertahan hingga Alan mengirimkan uang dari Sumatera? Ah, ini tak masuk akal. Apa alasan untuk tetap bertahan di sini? Bagaimana jika tiba masanya ia melahirkan? Hana tak dapat menerimanya. Ia bukan istri yang terlalu kuat untuk menghadapi ini. Dan ia yakin sekuat apapun perempuan pasti membutuhkan suami di sisinya dalam hari- hari penantian seperti dirinya sekarang.
            ”Kau tega meninggalkan aku dan kandungan ini?”, Hana nyaris menangis.
            ”Tak ada jalan lain , Han. Aku ingin bayi kita hidup. Dan hidupnya pun selayak bayi lainnya yang dapat minum susu dan makan bubur serta buah dan sebagainya. Kita sangat tau tak ada harapan untuk itu jika terus bertahan di sini”.

            Itulah. Alan pergi (atau kembali?) ke Sumatera tanpa Hana.
Itu dua tahun lalu. Sebelum Alan diajak kemenakan tetua kampung untuk menemaninya menuju Sumatera. Alan difasilitasi penuh untuk semua itu. Ongkos hingga makan dan segenap keperluan hingga tiba di sana. Hana hanya bisa pasrah. Tak ada kata terucap tika menyalami Alan sebelum mengangkut diri ke mobil sayur yang akan menibakannya di pelabuhan, meski ada air mata yang sama- sama tertahan di sana.



Maret 2008
Tak ada yang bisa disalahkan atas tiap musibah. Sebuah ketentuan, titah Yang Maha Kuasa. Begitupun Hana, ia hanya terdiam lemas menatapi bayi yang keluar tanpa tangis itu. Tak ada yang mampu ia salahkan, ataupun untuk sekedar ia tangisi. Perjalanan hidupnya selama ini lebih menyakitkan dibanding ’sekedar’ kehilangan sesuatu yang memang belum miliknya. Lagi, tak ada kata terucap senja itu. Ia segera memohon tolong Mbah Yah untuk mengurusi sang makhluk hampir bayi.


12 Juli 2010
Hana tetap berzikir –kebiasaan baru yang didapati sejak menumpang hidup pada Ustazah Romlah. Kadang ada tangis di sela katupan- katupan matanya. Sebuah kebohongan besar jika ia katakan ia tak merindui sang suami. Namun kepasrahan  telah mengalahkan segala. Hampir tak ada lagi asa untuk bertemu yang dulu memenuhi hatinya. Hanya ada doa- doa indah melantun tiap tika ia selesai salat. Ia pasrah. Ya, sepasrah- pasrahnya.


Di sudut lain di dunia, di balik tiang- tiang besi ringkih. Seorang lelaki muda bersedekap dengan betisnya di ujung ruang. Tubuhnya banyak lebam. Ruang pengap ini jadi tempat tinggalnya sejak dua tahun silam. Bertetangga sesama pesakitan.
Selayak seorang perempuan yang dicintainya di sana yang mungkin kini tengah mengasuh bocah kecil mereka, ia hanya diam, tak mampu berucap. Apapun. Tak ada kata, tiada pula yang tega untuk ia sesali.
Tak ada penyesalan tentang keinginannya untuk kembali (atau pergi?) ke tempat lahirnya. Tak ada penyesalan tentang kesediaannya untuk diperintah mengantar bungkusan hitam itu ke Sumatera. Tak ada penyesalan mengenai kebungkamannya saat ditanyai identitas. Karena itu semua ia lakukan untuk istri dan calon bayi yang begitu ia cinta. Ia tak akan pernah rela jika orang- orang berseragam itu mendatangi istrinya dan mengabari nasib yang ia alami kini. Maka ia pilih bungkam meski nyawanya mungkin tinggal dua hari. Ya, ia telah ditetapi mati. Tak ada hidup bagi pembawa heroin.

Sinar mentari hari ini begitu suram baginya. Seolah tak ada asa seperti yang ia katakan ketika itu.

14 Juli 2010
Mentari pagi ini.
Ia terpaku. Masih dengan lantunan zikir. Tatkala nur surya yang merambat melalui kisi jendela tepat mengena ke wajah, tangisnya pecah. Ia tertunduk dalam- dalam. Seperti mengeluarkan segala luka pedih yang dipendamnya selama ini, membiarkan semua pergi tanpa sisa. Ia habiskan air matanya pagi itu. Lalu ia tersungkur di atas sajadah mahar. Tangisnya tak henti hingga tubuh kurusnya terguncang- guncang. Ia terus menangis.
Pedih.


Seorang berseragam memanggil si pria ringkih dan penuh lebam keluar. Si pria tahu ini waktunya.
Ia tetap diam.
Bungkam.
Pasrah.

Hana masih menangis. Deras sekali. Ia bukan tak menahannya, tapi justru karena pertahanannya tak mampu lagi membendung air matanya. Bukan pula karena ingin terlihat lemah. Melainkan tangisnya itu bukti bahwa ia tak dapat lagi berpura- pura kuat.
Ia terus tersedu.
Hatinya kian pedih karena ini 14 Juli. Ia ingin menjumpai suaminya di manapun ia berada kini. Hana hanya ingin mengucap selamat hari lahir bagi separuh nyawanya itu....
Namun Hana hanya mampu menangis pedih.

Selamat hari lahir cinta….
Ada sebuah kasih menantimu di sini
Berharap dapat melisankan langsung
Mengucap doa tulus pada harimu...

Selamat hari lahir cinta...
Ada segenggam rindu di sini
Menanti untuk kau mengerti dan raih...

Selamat hari lahir cinta....
Beribu haru berjibaku di sini
Tika menyadari harimu telah berkurang satu- satu
Berlomba bertasbih agar tetap berkah usia

Selamat hari lahir cinta....
Aku masih bertahan menanti...
Semampu aku bisa...


Palembang, Juli 2010
sebuah catatan rindu

1 comments:

Dita Rubian Sugiharti mengatakan...

14 juli? sepertinya tgl lahir seseorang :p wkakaka

Posting Komentar

 
;