Jika Anda memakai jasa
angkutan bus kota dan melintasi daerah simpang
R. K. Charitas atau di atas Jembatan Ampera, jangan heran jika tiba- tiba
seorang atau bahkan dua orang lelaki muda naik dari pintu belakang, berjalan ke
baris depan, lalu ‘berorasi’.
“Pak Markum jatuh dari empang, assalamualaikum para penumpang. Bola basket
jatuh di keranjang, jangan kaget kalau kami masuk dari
pintu belakang. Kami ingin membacakan sebuah puisi.
Lapar tuan, lapar nyonya. Karena lapar orang bisa jadi gelap mata. Di
sini hanya berusaha mencari sesuap- dua suap nasi. Seribu atau dua ribu rupiah
tidak ada artinya bagi Bapak dan Ibu di sini, tapi begitu berarti bagi kami.
Lebih baik kita saling tolong menolong daripada todong- menodong. Kami di sini meminta keikhlasan Bapak dan
Ibu, daripada kami merampas dompet, hape,
atau perhiasan Anda. Ikhlas bagi Anda, halal bagi kami”.
Ya, untaian
kalimat itu yang akan Anda dengar di sebagian besar bus kota yang melintasi
simpang RK Charitas atau Jembatan Ampera.
Sebagian orang
menyebut mereka Pak Markum. Tentu bukan karena itulah nama mereka, bukan juga
karena nama ayahnya. Panggilan Pak Markum diambil dari kata- kata awal dari
orasi orang- orang yang mengaku kelaparan ini.
Fenomena Pak
Markum sudah ada sejak beberapa bulan terakhir, entah apa nama tepatnya.
Todong? Sepertinya bukan. Mereka tidak menodong, hanya ‘meminta’ keikhlasan
Anda. Tapi disebut sebagai peminta- minta pun cara yang mereka gunakan
sebenarnya cukup memaksa.
Belum ada
korban jiwa terkait kasus ini. Tapi korban harta? Hmm, agaknya mahasiswa perlu
meningkatkan kewaspadaan di bus kota yang terindikasi oleh ‘peminta- minta’
ini. Pasalnya, laptop milik seorang
mahasiswi Akademi Kesehatan pernah menjadi korban. Meskipun belum banyak yang
menjadi korban harta dalam kasus ini, para penumpang tetap merasa resah.
Pasalnya, si Pak Markum acap kali melancarkan aksinya dalam keadaan mabuk.


0 comments:
Posting Komentar