Selasa, 01 Mei 2012

si PAK MARKUM


Jika Anda memakai jasa angkutan bus kota dan melintasi daerah simpang R. K. Charitas atau di atas Jembatan Ampera, jangan heran jika tiba- tiba seorang atau bahkan dua orang lelaki muda naik dari pintu belakang, berjalan ke baris depan, lalu ‘berorasi’.
Pak Markum jatuh dari empang, assalamualaikum para penumpang.  Bola basket jatuh di keranjang, jangan kaget kalau kami masuk dari pintu belakang. Kami ingin membacakan sebuah puisi. Lapar tuan, lapar nyonya. Karena lapar orang bisa jadi gelap mata. Di sini hanya berusaha mencari sesuap- dua suap nasi. Seribu atau dua ribu rupiah tidak ada artinya bagi Bapak dan Ibu di sini, tapi begitu berarti bagi kami. Lebih baik kita saling tolong menolong daripada todong- menodong.  Kami di sini meminta keikhlasan Bapak dan Ibu, daripada kami merampas dompet, hape, atau perhiasan Anda. Ikhlas bagi Anda, halal bagi kami”.
Ya, untaian kalimat itu yang akan Anda dengar di sebagian besar bus kota yang melintasi simpang RK Charitas atau Jembatan Ampera.
Sebagian orang menyebut mereka Pak Markum. Tentu bukan karena itulah nama mereka, bukan juga karena nama ayahnya. Panggilan Pak Markum diambil dari kata- kata awal dari orasi orang- orang yang mengaku kelaparan ini.
Fenomena Pak Markum sudah ada sejak beberapa bulan terakhir, entah apa nama tepatnya. Todong? Sepertinya bukan. Mereka tidak menodong, hanya ‘meminta’ keikhlasan Anda. Tapi disebut sebagai peminta- minta pun cara yang mereka gunakan sebenarnya cukup memaksa.
Belum ada korban jiwa terkait kasus ini. Tapi korban harta? Hmm, agaknya mahasiswa perlu meningkatkan kewaspadaan di bus kota yang terindikasi oleh ‘peminta- minta’ ini. Pasalnya, laptop milik seorang mahasiswi Akademi Kesehatan pernah menjadi korban. Meskipun belum banyak yang menjadi korban harta dalam kasus ini, para penumpang tetap merasa resah. Pasalnya, si Pak Markum acap kali melancarkan aksinya dalam keadaan mabuk. 
 

0 comments:

Posting Komentar

 
;