Hari ini jadi tempat curhat seorang sahabat. Curhat + minta pendapat katanya. Topiknya "NIKAH MUDA". Jujur, rada nyess denger dua kata itu. Berat eiy, apalagi dicurhatin gitu . Walaaahh... nggak nahaaannn.
Hmm, nikah muda. Masih terlalu banyak pro-kontra tentang ini. Mungkin di Indonesia, khususnya di daerah- daerah pedesaan, nikah muda adalah hal lumrah. Namun kelumrahan ini tidak berlaku bagi masyarakat yang lama tinggal di kota. Nikah muda dianggap sebagai 'penghalang' untuk menikmati masa- masa muda yang indah. Pemikiran orang- orang kota kebanyakan bahwa pernikahan adalah semacam penjara. Kau tak akan pernah banyak berkarya jika kau menikah. Kau akan terkungkung dalam ikatan itu. Tak akan ada lagi masa- masamu berjalan- jalan di mall dan belanja baju- baju bagus. Hidupmu hanya untuk keluarga. Bagi suami, sisa hidup adalah untuk kerja keras mencari nafkah. Dan bagi istri, hari- hari selanjutnya adalah kurungan untuk mengurus suami, rumah, dan anak- anakmu.
Ah, terus terang saja, pikiran seperti itu adalah pikiran kaum kolot yang kurang imannya. Menikah di usia muda bukan alasan mutlak pemberhenti karya. Menikah muda bukan alasan untuk memungkiri rezeki berlebih yang diberikan untuk istri melalui perantara suami.
Saya bukan orang yang berniat menikah muda (menikah muda menurut saya adalah menikah dalam batasan usia 17- 22). Mungkin akan menikah di usia 24, jika jodohnya sudah tiba di usia tersebut. Atau mungkin lebih dari itu. Karena masalah jodoh sama seperti masalah kematian. Kita tak akan pernah tau hingga waktunya benar- benar tiba. Kalau kematian tak dapat dipastikan sebelum ruh benar- benar lepas dari raga, maka jodoh baru dapat dikatakan jodoh jika akad sudah terucap. Mungkin yang jadi pembeda dari kedua hal itu adalah subjeknya. Kematian akan datang saat malaikat maut sudah tiba, tapi pernikahan akan diusung oleh malaikat berkuda putih dan berhati tulus. Hehehe.
Kembali ke masalah menikah muda. Bagi saya, mereka yang telah menikah muda lalu bahagia adalah mereka yang sukses menjalani hidup. Parameter kebahagiaan pernikahan tentu bukan mobil mewah, harta berlimpah, atau malah sex life yang berkecukupan. Tapi kebahagiaannya justru adalah saat mampu membangun mahligai sakinah, mawaddah dan rahmah. Lagi- lagi bagi saya, menunda menikah hingga batas usia tertentu bukan dikarenakan takut 'terpenjara' atau karena alasan- alasan picis lainnya. Target usia menikah yang saya canangkan karena justru saya menganggap bahwa pernikahan adalah suatu yang begitu sakral dan bukan hal yang dianggap remeh untuk dijalani (nb: pernikahan bukan sekedar dilakukan tapi untuk dijalani). Bahkan Allah menyebutnya sebagai mitsaqan ghalizah (perlu diingat bahwa Allah menyebut mitsaqan ghalizah hanya untuk dua hal: 1. Perjanjian Musa as dengan Allah di Bukit Sinai; dan 2. untuk Pernikahan). Butuh persiapan matang sempurna untuk itu. Tak cukup modal cinta dan penghasilan cukup atau bahkan berlebih. ada mental yang benar- benar perlu dipersiapkan dengan baik. Dengan iman dan taqwa sebagai landasan pernikahan. Bukan janji- janji manis nan palsu yang gampang diucapkan.
Sekali lagi, menikah muda bukan penghalang segala, apalagi berkarya. Tak ada yang perlu disalahkan bagi mereka yang ingin menikah muda. Namun pembeda antara optimis dan nekat adalah kerealistisan. Cukupkah imanmu? Cukupkah kedekatanmu pada Sang Pemberi Rezeki untuk meminta kepercayaan sebagai perantara rezeki-Nya bagi pendamping hidupmu?
Allah, tentang cinta
Kau Yang Maha Tahu Segala



1 comments:
Adi Saputra : hmm tulisan lumayan bagus , nmun kk dak jngok ending dari ceritonyo, kykny kesimpulan harus di perkuat lagi supaya artikel ini lebih bagus lagi..
Posting Komentar