Sabtu, 04 Mei 2013

Pekan Pembelajaran Kematian


Buatku ini pekan belajar tentang kematian. Benar2 belajar. Belajar terus menyadarinya, mengingatnya, dan tentu mempersiapkannya.

Tidak ada yang tau kapan waktu itu tiba. Dua puluh tahun lagikah? Dua tahun? Dua bulan? Dua minggu lagi? Dua hari? Bahkan mungkin saja 2 menit lagi!
Tidak ada yang tau! Bahkan Izrail pun tak tau. Ini sepenuhnya rahasia dan wewenang Rabb kita untuk memberi titah kepada sang malaikat.


Jumat pekan lalu, Indonesia seperti berawan duka dan berhujan air mata.  Salah satu ulama'nya kembali ke sana, ke ribaan Rabb kita. Itu pelajaran berharga di 'pekan pembelajaran kematian' ini.
Siapa yang menyangka bakal secepat itu? Empat-puluh-tahun-empat-belas-hari saudara2!
Wafat di tengah malam, sepulang kegiatan dakwah! Allahu akbar...
Andai waktuku sama, di usia 40, maka cuma tersisa separuh lagi.

Empat hari kemudian, satu lagi pelajaran. Siang itu  aku dapat pesan singkat berita duka. Siapa? Seorang adik tingkat semester 2. Ia mendahului kami menemui Dia, di usia dua-puluh-tiga.
Sebab? Sakit.
Jika itu sama dengan batas usiaku, berarti  aku cuma tiga tahun untuk menggenapkan takdir.


Esoknya, sepulang kuliah, hampir maghrib. Toa masjid dekat rumahku menyaringkan suara sang marbot. Adzan belum waktunya. Aku sudah yakin lagi2 ini berita duka.
Ya, benar. Seorang nenek yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku meninggal dunia. Usianya enam-puluh-delapan tahun. Perantaranya aku tidak tahu pasti. Tapi kata orang tuaku 'sakit tua'.

Jika kami berbatas sama, maka batasku akan kupenuhi 48 tahun lagi.



Kamis, selepas ashar. Kami rapi melingkar di salah satu sudut masjid itu. Selepas shirah Fatimah disampaikan, sang murabbiyah menyampaikan materinya. Tau apa judulnya? Ya, Kematian.

"Tiap jiwa itu pasti akan mati."
"Cuma Allah yang tau kapan kematian itu akan datang. Yang jelas saat itu kita harus sudah siap."

Pertemuan sore itu menitipkan air yang tersendat di pelupuk mata.

"Ini benar2 sebuah peringatan, sebuah pelajaran, Nda!"


Kukira nasehat dari sang Mbak adalah penutup dari pekan pelajaranku. Closing statement.


Aku salah. Malam ini, pelajaran itu masih berlanjut. Seseorang yang belum pernah kutemui sama sekali, yang aku cuma berteman dengannya di facebook, bahkan tanpa interaksi sama sekali, kudapati kabar keberpulangannya juga. Usianya 21 tahun. Meninggal dengan perantara kecelakaan motor.
Meski kami tak pernah berinteraksi sama sekali, entah kenapa mataku juga jadi berkaca dan dadaku sesak ingin menangis. Setahuku dia juga 'anak lingkaran'.
Efek rabithah? Besar kemungkinan.
Ah, 21... Jika itu batasku, maka batas itu akan kugenapi kurang dari setahun lagi...



Tapi siapa yang pernah tahu soal batas-membatas ini?
20 tahun, 3 tahun, 48 tahun, 1 tahun lagi? Siapa yang pernah tahu?
Tidak seorangpun!
Bahkan tentang 2 menit lagi pun kita tak pernah tahu. Yang kita tahu cuma maut itu pasti, mengenai waktu, itu sepenuhya rahasia Rabb kita. Yang penting buat kita cuma mempersiapkan bekal untuk di sana.

Tak guna juga usia panjang tanpa kemanfaatan, tanpa keberkahan. Usia pendek penuh kemaksiatan, itu lebih celaka lagi. Maka kita bermohon usia panjangnan berkah dan diridhoi-Nya. Usia yang berisi kemanfaatan bagi ummat.

Pasti nonton kan tayangan pemakaman Ust. Jefri yang dihadiri ribuan jama'ah. Subhanallah, Allahu Akbar. Mengapa bisa sampai sebegitunya? Karena beliau sering muncul di TV? Bukan, sama sekali bukan. Karena para jama'ah cinta pada beliau. Mereka merasakan kemanfaatan nyata yang ditebarkan sang Ustadz semasa hidupnya.
Jika itu kita, di dalam keranda itu, akankah sama? Akankah ada yang ramai menghantarkan dengan hati dilanda rasa kehilangan?



 "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
QS Al Anbiyaa' : 35




"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
QS Luqman : 34




"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."
QS Az Zumar : 42





"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."

"
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan."
QS Al Munafiquun: 9-11






Pertanyaan sederhana dan terasa jlebnya;
Apa yang sudah kita kerjakan?







Ada sebuah pernyataan dan pertanyaan yang menarik yang pernah saya baca, dan ini insya Allah mampu membuat kita berhati2 dalam berbuat. Kurang lebih begini;


"Lebih banyak orang yang meninggal ketika ia tidur daripada orang yang meninggal saat naik pesawat. Tapi kenapa orang2 selalu ketakutan (khawatir) saat menaiki pesawat daripada saat naik ke tempat tidurnya?"








Ini nasehat untuk aku dan kita. Semoga kita menjadi orang2 yang selalu bersiap diri menghadapi mati, menjemput batas kita.
















 




  




0 comments:

Posting Komentar

 
;